Tampilkan postingan dengan label Ilmu Syar'i. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Syar'i. Tampilkan semua postingan

Poin-Poin Tentang Ilmu Syar i


Poin-Poin Tentang Ilmu Syar i

Bismillah

1. Ilmu yang berhak mendapat pujian adalah ilmu syar'i, adapun ilmu selainnya maka tergantung manfaatnya, apakah kebaikan atau keburukan.

2. Islam tegak dengan 2 hal: "penyebaran ilmu dan jihad fisabilillah", sedangkan ilmu lebih dikedepankan daripada jihad, karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memulai dengan dakwah ilmu sebelum jihad.

3. Para Nabi 'alaihimusshalatu wassalam tidaklah mewariskan ilmu kecuali ilmu syar'i bukan selainnya, karena dalam hadits: "kalian lebih tahu  tentang urusan dunia kalian (selain ilmu syar'i)" [HR Muslim].

4  Ilmu syar'i wajib dipelajari, ada yang wajib 'ain seperti membaca al quran dengan benar, dan ada yang wajib kifayah seperti pengetahuan tentang istilah-istilah dalam ilmu makharijul huruf dan tajwid.

5. "Orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya ..."(Qs39:9), tentunya mereka melakukan itu berdasarkan ilmu syar'i sebagaimana isyarat lanjutan ayatnya.

6. Ilmu syar'i dengan kebodohan sama halnya perbedaan antara cahaya dan kegelapan, orang hidup dan orang mati, melihat dan buta, mendengar dan tuli, berbicara dan bisu.

7. Orang berilmu syar'i derajatnya meningkat (lihat: Qs58:11), di dunia dengan penghormatan dan rasa suka dari manusia dan di akhirat dengan mendapatkan tingkatan derajat sesuai dengan amalan dan dakwah ilmunya.

8. Hakikat seorang dai ketika dia berdakwah berdasarkan ilmu syar'i, firman Allah Ta'ala: " Katakanlah “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah di atas ilmu, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik" (Qs12:108).

9. Ketika berwudhu, dengan ilmu syar'i, hendaknya seorang muslim ikhlash dan ittiba', karena Allah Ta'ala yang menyuruh berwudhu (lihat: Qs5:6) dan NabiNya shallallahu 'alaihi wasallam telah memberi petunjuk mengenai tatacaranya yang sempurna.

10. Warisan yang masih tetap ada meskipun telah berabad-abad yang lalu adalah warisan para Nabi, barang siapa yang mengambilnya maka dia telah mendapatkan bagian yang banyak dari warisan mereka berupa ilmu syar'i.

11. Ilmu akan abadi meskipun miskin harta, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu adalah sahabat mulia hidup tak berkecukupan harta, tapi ilmu dan hafalan banyak yang dimiliki sehingga sampai saat ini riwayat-riwayat haditsnya masih saja dinukilkan.

12. Ilmu yang diajarkan akan bermanfaat bagi pengajarnya hingga setelah wafatnya, dalam hadits: "Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa'at darinya dan anak shalih yang selalu mendoakannya." [HR Muslim]

13. Ilmu yang menjaga anda, tidak butuh gembok atau kotak simpanan dan lainnya untuk menjaganya karena wadahnya ada di dalam hati sehingga anda tetap tenang dari kehilangannya, sedangkan harta sebaliknya.

14. Persaksian terbesar dan termulia adalah pernyataan laa ilaaha illallooh, Allah Ta'ala menggandengkan persaksian agung tersebut dengan persaksiaanNya sendiri, malaikat-malaikatNya, dan orang-orang berilmu yang menegakkan keadilan (lihat: Qs3:18).

15. Ulil Amri (lihat: Qs4:59) adalah ulama (pemilik ilmu) dan umara (pemilik kekuasaan), keduanya mesti ditaati dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala, karena ulama yang menjelaskan syari'at Allah Ta'ala, dan umara yang berwenang dalam penegakan syari'at Allah Ta'ala.

16. "Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan maka Dia akan pahamkan agama untuknya" [Muttafaqun 'alaihi], seseorang tidak akan paham Islam  kecuali dengan belajar ilmu syar'i, yang dengannya Allah Ta'ala akan memberinya kebaikan yang banyak.

17. "Tidak boleh mendengki kecuali terhadap dua hal; (terhadap) seorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah (ilmu) lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain" [Muttafaqun 'alaihi].

18. Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. [HR Muslim 2699]. Menuntut ilmu syar'i adalah salah satu jalan menuju surga dengan mudah.

19. Ilmu syar'i adalah cahaya, sebagai penerang dalam beribadah kepada Allah Ta'ala dan berinteraksi sesama manusia.

20. "Hanya saja yang takut kepada Allah adalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun" (Qs35:28). Mereka adalah para Ulama ilmu syar'i, maka dengannyalah seseorang menjadi yang paling takut kepada Rabbnya, bukan ilmu lain.

21. Ahlu ilmu sejati adalah mereka yang paling takut kepada Allah Ta'ala sebagaimana difirmankan olehNya (lihat: QS35:28), bukan mereka yang sombong dan angkuh dari ilmu dimilikinya

22. Ilmu terbagi 3: ada yang terpuji, tercela, dan mubah. Terpuji seperti ilmu al Quran dan hadits, tercela seperti ilmu penyesatan dan kukufuran, mubah seperti ilmu dunia, yang kadang terpuji dan kadang tercela, tergantung pemanfaatannya.

23. "Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai ilmu yang cukup tentang hal itu?” (Qs18:68). Semakin tinggi ilmu seseorang semakin mampu mengendalikan kesabarannya.

24. Menuntut ilmu kewajiban bagi setiap muslim, ada wajib 'ain ada wajib kifayah, seseorang yang memiliki harta banyak wajib 'ain baginya untuk mempelajari tentang zakat, sedangkan orang yang mengkhususkan diri untuk menuntut ilmu maka dia telah menunaikan wajib kifayah, dan ini merupakan keutamaan besar baginya.

25. Ibnul Qayyim rahimahullah  mengingatkan bahwa zakat ilmu itu 2 macam
1/ Mengajarkannya kepada orang lain
2/ Mengamalkannya, dengannya bertumbuh, menjadi banyak, dan pemiliknya dibukakan pintu-pintu serta pembendaharaan ilmu, karena demikian inilah perdagangannya, sebagaimana harta bertumbuh dengan perdagangan begitupun ilmu.

26. "Tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui" (Qs16:43,21:7). Allah Ta'ala menyuruh hamba-hambaNya bertanya kepada orang yang tahu ketika diantara mereka tidak tahu, menunjukkan kemuliaan besar atas rekomendasi langsung dari Allah Ta'ala untuk orang yang berilmu.

27. Seseorang dalam perjalanannya menuntut ilmu harus dimulai dari yang ilmu paling dasar lagi mudah dipahami, dari buku-buku ringkasan, dan dari guru yang bisa memandunya.

28. "Dia (Yakub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui" (QS12:86). Setiapkali seseorang bertambah pengetahuaanya tentang Allah maka semakin terminimalisir keluhkesahnya kepada makhluq, dan tidak mengadukannya kecuali kepada Al Khaliq. (Syaikh Attarifi)

29. "Sungguh Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Dawud) pada waktu petang dan pagi, dan juga burung-burung dalam keadaan terkumpul..."(Qs 38:18-19). Dikarenakan keagungan dzikir pagi dan petang sehingga Allah Ta'ala menyebutkan pada waktu tersebut manusia, hewan, dan benda mati bertasbih kepadaNya. (Syaikh At Tharify)

30. Ketika seseorang telah mengetahui mana sunnah dan mana makruh maka hendaknya sunnah dikerjakan dan makruh ditinggalkan, bukan sebaliknya.

Wallahu a'lam
🖋 Sayyid Syadly Lc 

Penuntut Ilmu Syar i, Keutamaannya Sungguh Menakjubkan


Penuntut Ilmu Syar'i, Keutamaannya Sungguh Menakjubkan.

Bismillah

Segala puji bagi Allah Ta'ala atas segala nikmatNya, Allah 'Azza wa Jalla berfirman dalam surah maryam ayat 63

تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا
"Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang bertakwa" [Qs Maryam 19:63]. 

Nikmat surga yang diperuntukkan hanya untuk hamba-hamba Allah Ta'ala yang bertaqwa, dan ketika seseorang bertaqwa kepada Allah Ta'ala maka dia akan melakukan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, serta dengan bertaqwa Allah Ta'ala akan mengajarinya.

Ketika seseorang ingin diajar oleh Allah Ta'ala maka hendaknya dia bertaqwa, dan salahsatu jalan taqwa adalah dengan menuntut ilmu syar'i, dan dengan sebab menuntut ilmu ini pula seseorang bisa mendapatkan ilmu yang Allah Ta'ala ajarkan kepadanya.

Allah Ta'ala berfirman dalam surah al baqarah ayat yang ke 282

 وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Dan bertakwalah kepada Allah, dan Allah memberikan pengajaran kepada kalian" [Qs Al-Baqarah 2:282].

Shalawat dan salam kita peruntukan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam atas jasa-jasa beliaulah kita bisa mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, dan beliau shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda sebagaimana yang tertulis di dalam shahih muslim rahimahullah:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ 
"Dan barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga" [HR Muslim 2699]

Tentunya hadits ini memberitahukan kepada kita pemahaman bahwa jalan menuju surga itu sulit, dan untuk menjadikannya mudah adalah dengan menuntut ilmu, dan ilmu yang dimaksudkan tentunya ilmu syar'i.

Saudara saudariku seiman...

Keutamaan menuntut ilmu sangatlah banyak, diantaranya telah kita sebutkan di atas, dan diantaranya lagi adalah malaikat menundukkan sayapnya kepada penuntut ilmu karena keridhoan dari apa yang dia lakukan, sebagaimana dalam hadits yang terdapat dalam sunan abu dawud, sunan at tirmidzi dan sunan ibnu majah rahimahumullah:

وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ
"Dan para malaikat akan menundukkan sayap-sayapnya karena senang kepada penuntut ilmu" [HR Abu Dawud 3641, At Tirmidzi 2682, dan Ibnu Majah 223]

Dan lanjutan haditsnya memberitakan kepada kita bahwa penduduk langit dan bumi bahkan ikan beristighfar memohon ampunan kepada Allah Ta'ala bagi penuntut ilmu:

وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ 
"Orang yang berilmu akan dimintakan ampunan oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dalam laut" [HR Abu Dawud 3641, At Tirmidzi 2682, dan Ibnu Majah 223]

Kemudian setelah itu, dilanjutkan dengan keutamaan lain bahwa keutamaan penuntut ilmu dengan yang lainnya seperti keindahan bulan purnama dengan bintang-bintang yang memberikan keindahan hanya sedikit dibandingkan dengan bulan purnama

وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
"Kelebihan serang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang" [HR Abu Dawud 3641, At Tirmidzi 2682, dan Ibnu Majah 223].

Saudara saudariku seiman...

Majlis ilmu atau perkumpulan untuk menuntut ilmu adalah perkumpulan yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sifatkan sebagai taman surga, sebagaimana sabdanya dalam sunan attirmidzi yang dihasankan oleh al albani rahimahumallah:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
"Apabila kalian melewati taman Surga, maka singgalah!" Mereka bertanya "apakah taman Surga itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "halaqah-halaqah dzikir" [HR At Tirmidzi 3510].

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu ketika beliau menyebutkan hadits ini beliau mengatakan:

أما إني لا أعني القُصَّاص ولكن حلق الفقه.
"Ketahuilah bahwa sesungguhnya saya tidak bermaksud mereka adalah para ahlu kisah tapi halaqah fiqh".

Dan berkata 'Atho al Khurosâni:

مجالس الذكر مجالس الحلال والحرام ،كيف تشتري وتبيع وتصلي وتصوم وتنكح وتطلق وأشباه هذا
"Majlis-majlis dzikir adalah majlis-majlis halal dan haram, bagaimana anda membeli, menjual, shalat, berpuasa, haji, menikah, menalak, dan semisalnya".

Coba perhatikan salaf shalih di bawah ini:

وكان أبو السَّوَّار العدوي في حلقة يتذاكرون العلم ومعهم فتى شاب فقال لهم : قولوا سبحان الله والحمد لله ، فغضب أبو السوار ، وقال : ويحك في أي شيء كنا إذاً ؟!
"Dan Abu as Sawwâr Al Adawy suatu ketika di sebuah halaqah saling mengkaji ilmu, bersama mereka seorang pemuda mengatakan kepada orang-orang di halaqah tersebut: "kalian mestinya mengatakan subhanallah wal hamdulillah", maka abu as sawwar marah, dan berkata: "celakalah anda, jadi anda anggap kami sedang apa?!"

Dan dalam kitab Addarimi ada sebuah perkataan ulama yang sanadnya shahih menurut Husain Salim Asad Addaroni:

عَنْ وَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ مَجْلِسٌ يُتَنَازَعُ فِيهِ الْعِلْمُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ قَدْرِهِ صَلَاةً لَعَلَّ أَحَدَهُمْ يَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيَنْتَفِعُ بِهَا سَنَةً أَوْ مَا بَقِيَ مِنْ عُمُرِهِ

Dari Wahab bin Munabbih berkata: " Majelis yang diselenggarakan untuk mendiskusikan ilmu lebih aku sukai daripada digunakan untuk shalat (sunnah), sebab siapa tahu diantara kalian mendengar sepatah kata yang manfaatnya bisa setahun atau sepanjang umur." [Riwayat Addarimi 334]

Saudara saudariku seiman...

Betapa banyak keutamaan ilmu, dan kami tidak sebutkan semua di sini, karena keterbatasan ilmu kami dan penghargaan terhadap waktu, untuk itu pergunakan waktu-waktu kita untuk menuntut ilmu syar'i.

Demikianlah yang kami sampaikan kepada saudara saudariku seiman, semoga bermanfaat bagi diri kami dan bagi semuanya.

WaLlahu Ta'ala A'lam
✒ Sayyid Syadly, Lc.

Tuntutlah Ilmu Syar i, Mengapa Dan Bagaimana?


Tuntutlah Ilmu Syar'i, Mengapa Dan Bagaimana?

Bismillah

Segala puji bagi Allah Ta'ala atas segala nikmatNya, Dialah yang berfirman dalam surah azzumar ayat ke 9:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran" [Qs Az Zumar 39:9].

Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang telah membawa ummatnya dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya ilmu, beliaulah yang bersabda sebagaimana tercantum dalam kitab shahih al bukhari dan shahih muslim rahimahumallah:

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
"Siapa yang Allah kehendaki baik pada dirinya maka Allah akan pahamkan padanya dalam urusan agama" [HR Al Bukhari 3116 dan Muslim 1037].

Saudara saudariku seiman...

Bertaqwalah kepada Allah Ta'ala dan menuntut ilmulah ilmu syar'i yaitu ilmu tentang syari'at islam kita karena sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya dan petunjuk, adapun kebodohan adalah kegelapan dan kesesetan, Allah Ta'ala berfirman dalam surah al an-'am ayat 122:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا 
Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? [Qs Al An-'am 6:122].

Tuntutlah ilmu yang Allah Ta'ala turunkan kepada RasulNya shallallahu 'alaihi wasallam berupa wahyu, sebab para ahlu ilmu adalah pewaris para Nabi, sedangkan mereka tidak mewariskan dinar dan dirham, tapi hanya ilmu, barangsiapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak dari warisan mereka, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam sunan abu dawud, sunan at tirmidzi, dan sunan ibnu majah  rahimahumullah dengan derajat hadits shahih:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
"Para ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka telah mengambil bagian yang banyak" [HR Abu Dawud 3641, At Tirmidzi 2682, dan Ibnu Majah 223].

Tuntutlah ilmu syar'i karena dengannya diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah Ta'ala, sebagaimana firmanNya dalam surah al mujadilah ayat ke 11:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kalian kerjakan" [Qs Al Mujadilah 58:11].

Tuntutlah ilmu syar'i lagi bermanfaat dan ajarkanlah sebab pahalanya akan mengalir meskipun pemiliknya telah meninggal dunia, Nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wasallam bersabda sebagaimana termaktub dalam shahih al bukhari dan shahih muslim rahimahumallah:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa'at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya." [HR Al Bukhari 1337 dan Muslim 1631]

Perhatikanlah apa yang telah ditinggalkan oleh ahlu ilmu -yang telah meninggal dunia- dari ilmu mereka, mereka mengajarkan kepada murid-muridnya dan menuliskan ilmu sehingga sampai saat ini kita masih merasakan ilmu mereka, seakan-akan mereka masih hidup, manusiapun mendoakan mereka dengan doa kebaikan ketika disebut nama mereka.

Saudara saudariku seiman...

Tuntutlah ilmu sedikit demi sedikit dan setahap demi setahap agar ilmu yang kita perolah dapat tertanam dengan baik di hati kita, itulah sebab mengapa al quran tidak turun sekaligus kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tapi sedikit demi sedikit dan setahap demi setahap, sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam surah al furqan ayat ke 32:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا
Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar)" [Qs Al-Furqan 25:32].

Tuntutlah ilmu itu terus menerus, dan jangan lupa mengamalkannya semampunya, karena sungguh buruk perumpamaan yang berilmu tanpa beramal, firman Allah Ta'ala dalam surah al jumuah ayat 5:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

"Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." [Qs Al-Jumu'ah 62:5]

Orang-orang yang berilmu tapi tidak beramal, mereka seperti yahudi yang Allah Ta'ala murkai, dan beramal tanpa berilmu seperti nasrani yang sesat, sebagaimana dalam surah al fatihah ayat terakhir:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (yahudi berilmu tanpa beramal), dan bukan mereka yang sesat (nasrani beramal tanpa ilmu).
[Qs Al-Fatihah 1:7]

Demikianlah yang kami sampaikan kepada saudara saudariku seiman, semoga bermanfaat bagi diri kami dan bagi semuanya.

WaLlahu Ta'ala A'lam
✒ Sayyid Syadly, Lc