Tampilkan postingan dengan label Siroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siroh. Tampilkan semua postingan

Fawaid Surah Yusuf


Bismillah 

Fawaid Surah Yusuf 

1. Takwil mimpi atau tafsir mimpi, ada mimpi yang bisa ditafsirkan dan ada yang hanya sekedar bunga mimpi. Dan tafsir mimpi ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang Allah Ta'ala berikan keahlian kepadanya, seperti Nabi Yusuf 'alaihissalam. Dalam surah ini ada 3  mimpi:

1/ Mimpi beliau sendiri

(إِذۡ قَالَ یُوسُفُ لِأَبِیهِ یَـٰۤأَبَتِ إِنِّی رَأَیۡتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوۡكَبࣰا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ رَأَیۡتُهُمۡ لِی سَـٰجِدِینَ)
(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”
[Qs Yusuf 4]

(وَرَفَعَ أَبَوَیۡهِ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ وَخَرُّوا۟ لَهُۥ سُجَّدࣰاۖ وَقَالَ یَـٰۤأَبَتِ هَـٰذَا تَأۡوِیلُ رُءۡیَـٰیَ مِن قَبۡلُ قَدۡ جَعَلَهَا رَبِّی حَقࣰّاۖ)
Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan.
[Qs Yusuf 100]

2/ Mimpi 2 anak muda

وَدَخَلَ مَعَهُ ٱلسِّجۡنَ فَتَيَانِۖ قَالَ أَحَدُهُمَآ إِنِّيٓ أَرَىٰنِيٓ أَعۡصِرُ خَمۡرٗاۖ وَقَالَ ٱلۡأٓخَرُ إِنِّيٓ أَرَىٰنِيٓ أَحۡمِلُ فَوۡقَ رَأۡسِي خُبۡزٗا تَأۡكُلُ ٱلطَّيۡرُ مِنۡهُۖ نَبِّئۡنَا بِتَأۡوِيلِهِۦٓۖ إِنَّا نَرَىٰكَ مِنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
Dan bersama dia masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara. Salah satunya berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur,” dan yang lainnya berkata, “Aku bermimpi, membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung.” Berikanlah kepada kami takwilnya. Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang yang berbuat baik.
[Qs Yusuf 36]

يَٰصَٰحِبَيِ ٱلسِّجۡنِ أَمَّآ أَحَدُكُمَا فَيَسۡقِي رَبَّهُۥ خَمۡرٗاۖ وَأَمَّا ٱلۡأٓخَرُ فَيُصۡلَبُ فَتَأۡكُلُ ٱلطَّيۡرُ مِن رَّأۡسِهِۦۚ قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ ٱلَّذِي فِيهِ تَسۡتَفۡتِيَانِ
Wahai kedua penghuni penjara, “Salah seorang di antara kamu, akan bertugas menyediakan minuman khamar bagi tuannya. Adapun yang seorang lagi dia akan disalib, lalu burung memakan sebagian kepalanya. Telah terjawab perkara yang kamu tanyakan (kepadaku).”
-Surat Yusuf, Ayat 41

3. Mimpi raja

وَقَالَ ٱلۡمَلِكُ إِنِّيٓ أَرَىٰ سَبۡعَ بَقَرَٰتٖ سِمَانٖ يَأۡكُلُهُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٞ وَسَبۡعَ سُنۢبُلَٰتٍ خُضۡرٖ وَأُخَرَ يَابِسَٰتٖۖ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَأُ أَفۡتُونِي فِي رُءۡيَٰيَ إِن كُنتُمۡ لِلرُّءۡيَا تَعۡبُرُونَ
Dan raja berkata (kepada para pemuka kaumnya), “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus; tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering. Wahai orang yang terkemuka! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi.”
-Surat Yusuf, Ayat 43

قَالَ تَزۡرَعُونَ سَبۡعَ سِنِينَ دَأَبٗا فَمَا حَصَدتُّمۡ فَذَرُوهُ فِي سُنۢبُلِهِۦٓ إِلَّا قَلِيلٗا مِّمَّا تَأۡكُلُونَ
Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.
-Surat Yusuf, Ayat 47

ثُمَّ يَأۡتِي مِنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ سَبۡعٞ شِدَادٞ يَأۡكُلۡنَ مَا قَدَّمۡتُمۡ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلٗا مِّمَّا تُحۡصِنُونَ
(Bahasa Indonesia)
Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan.
-Surat Yusuf, Ayat 48

ثُمَّ يَأۡتِي مِنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ عَامٞ فِيهِ يُغَاثُ ٱلنَّاسُ وَفِيهِ يَعۡصِرُونَ
Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).”
-Surat Yusuf, Ayat 49

2. Jika orang tua lebih mencintai anaknya yang satu dari yang lain, maka hendaknya mereka menyembunyikan kecintaan yang lebih itu, agar tidak terjadi hasad di antara mereka.

Nabi Ya'qub 'alaihissalam memberikan kecintaan lebih kepada Nabi Yusuf 'alaihissalam, tapi ternyata saudara-saudaranya mengetahui hal itu sehingga timbullah hasad dalam diri mereka. 

إِذۡ قَالُواْ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰٓ أَبِينَا مِنَّا وَنَحۡنُ عُصۡبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ
(Bahasa Indonesia)
Ketika mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata.
-Surat Yusuf, Ayat 8

3. Berusaha untuk selalu melakukan pencegahan terhadap apa yang bisa membahayakan diri dan orang lain.

Nabi Ya'qub 'alaihissalam menyarankan kepada Yusuf 'alaihissalam untuk tidak menceritakan mimpi tersebut yang berpotensi berakibat sesuatu yang tidak diinginkan.

قَالَ يَٰبُنَيَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡيَاكَ عَلَىٰٓ إِخۡوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيۡدًاۖ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لِلۡإِنسَٰنِ عَدُوّٞ مُّبِينٞ
(Bahasa Indonesia)
Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.”
-Surat Yusuf, Ayat 5

4. Menjauhi dosa, karena dosa yang satu bisa memanggil dosa yang lainnya.

Dosa hasad, kemudian dosa ingin mencelakakan orang yang dihasadi, kemudian, kebohongan setelah mencelakainya seraya menutup-nutupinya.

وَجَآءُوٓ أَبَاهُمۡ عِشَآءٗ يَبۡكُونَ
(Bahasa Indonesia)
Kemudian mereka datang kepada ayah mereka pada petang hari sambil menangis.
-Surat Yusuf, Ayat 16

قَالُواْ يَٰٓأَبَانَآ إِنَّا ذَهَبۡنَا نَسۡتَبِقُ وَتَرَكۡنَا يُوسُفَ عِندَ مَتَٰعِنَا فَأَكَلَهُ ٱلذِّئۡبُۖ وَمَآ أَنتَ بِمُؤۡمِنٖ لَّنَا وَلَوۡ كُنَّا صَٰدِقِينَ
(Bahasa Indonesia)
Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.”
-Surat Yusuf, Ayat 17

وَجَآءُو عَلَىٰ قَمِيصِهِۦ بِدَمٖ كَذِبٖۚ قَالَ بَلۡ سَوَّلَتۡ لَكُمۡ أَنفُسُكُمۡ أَمۡرٗاۖ فَصَبۡرٞ جَمِيلٞۖ وَٱللَّهُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ
(Bahasa Indonesia)
Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Yakub) berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”
-Surat Yusuf, Ayat 18

5. Makar itu bertingkat-tingkat bahayanya.

Makar untuk membunuh lebih besar bahayanya daripada makar sekedar membuangnya ke sumur.

ٱقۡتُلُواْ يُوسُفَ أَوِ ٱطۡرَحُوهُ أَرۡضٗا يَخۡلُ لَكُمۡ وَجۡهُ أَبِيكُمۡ وَتَكُونُواْ مِنۢ بَعۡدِهِۦ قَوۡمٗا صَٰلِحِينَ
(Bahasa Indonesia)
Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat agar perhatian ayah tertumpah kepadamu, dan setelah itu kamu menjadi orang yang baik.”
-Surat Yusuf, Ayat 9

قَالَ قَآئِلٞ مِّنۡهُمۡ لَا تَقۡتُلُواْ يُوسُفَ وَأَلۡقُوهُ فِي غَيَٰبَتِ ٱلۡجُبِّ يَلۡتَقِطۡهُ بَعۡضُ ٱلسَّيَّارَةِ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ
(Bahasa Indonesia)
Seorang di antara mereka berkata, “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu hendak berbuat.”
-Surat Yusuf, Ayat 10

6. Ibrah itu dilihat dari sempurnanya bagian akhir bukan kurangnya bagian awalnya.

Pada awalnya saudara-saudara beliau melakukan dosa-dosa, yang kemudian pada kisah akhirnya bertaubat dan memohon kepada bapak mereka untuk memohonkan ampun kepada Allah Ta'ala bagi mereka.

قَالُواْ يَٰٓأَبَانَا ٱسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَآ إِنَّا كُنَّا خَٰطِـِٔينَ
(Bahasa Indonesia)
Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa).”
-Surat Yusuf, Ayat 97

Bahkan disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa mereka semuanya menjadi Nabi Allah Ta'ala setelah kejadian itu. Sebagaimana perkataan beberapa mufassir (ahli tafsir) ketika menafsirkan al asbath bahwa mereka itu adalah saudara-saudara Nabi Yusuf 'alaihimussalam jami'an.

قُولُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِـۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطِ وَمَآ أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَآ أُوتِيَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمۡ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّنۡهُمۡ وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ

(Bahasa Indonesia)
Katakanlah, “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami berserah diri kepada-Nya.”
-Surat Al-Baqarah, Ayat 136

7. Pentingnya kepercayaan

Pada asalnya prasangka baik itu lebih didahulukan, tapi ketika adanya suatu kejadian yang pernah dialami maka tidak tercela mengkhawatirkan kejadian sama yang bisa saja terjadi kembali.

قَالَ هَلۡ ءَامَنُكُمۡ عَلَيۡهِ إِلَّا كَمَآ أَمِنتُكُمۡ عَلَىٰٓ أَخِيهِ مِن قَبۡلُ فَٱللَّهُ خَيۡرٌ حَٰفِظٗاۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
(Bahasa Indonesia)
Dia (Yakub) berkata, “Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?” Maka Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.
-Surat Yusuf, Ayat 64

8. Kesabaran ada 2: sabar darurat, dan sabar pilihan.

1) Sabar darurat seperti kesabaran Nabi Yusuf 'alaihissalam ketika beliau diperlakukan oleh saudara-saudaranya, tidak ada pilihan.

فَلَمَّا ذَهَبُواْ بِهِۦ وَأَجۡمَعُوٓاْ أَن يَجۡعَلُوهُ فِي غَيَٰبَتِ ٱلۡجُبِّۚ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِ لَتُنَبِّئَنَّهُم بِأَمۡرِهِمۡ هَٰذَا وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ
(Bahasa Indonesia)
Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkan ke dasar sumur, Kami wahyukan kepadanya, “Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.”
-Surat Yusuf, Ayat 15

2) Sabar pilihan seperti kesabarannya melawan hawa nafsunya.

وَرَٰوَدَتۡهُ ٱلَّتِي هُوَ فِي بَيۡتِهَا عَن نَّفۡسِهِۦ وَغَلَّقَتِ ٱلۡأَبۡوَٰبَ وَقَالَتۡ هَيۡتَ لَكَۚ قَالَ مَعَاذَ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ رَبِّيٓ أَحۡسَنَ مَثۡوَايَۖ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ
(Bahasa Indonesia)
Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang yang zhalim itu tidak akan beruntung.
-Surat Yusuf, Ayat 23

9) Keikhlasan membawa keberuntungan

Keikhlasan Nabi Yusuf 'alaihissalam dalam menjaga batasan-batasan Allah Ta'ala yang menjadikannya sebagai orang beruntung, seperti keberuntungan menjadi kepercayaan al 'Aziz (pembesar mesir saat itu), dan pertemuan dengan orang tuanya serta saudara-saudaranya.

وَلَقَدۡ هَمَّتۡ بِهِۦۖ وَهَمَّ بِهَا لَوۡلَآ أَن رَّءَا بُرۡهَٰنَ رَبِّهِۦۚ كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ
(Bahasa Indonesia)
Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.
-Surat Yusuf, Ayat 24

Dalam qiroat lain mukhlishin (orang-orang ikhlash)

10) Indikasi yang kuat bisa dijadikan sebagai salah satu bukti persaksian.

قَالَ هِيَ رَٰوَدَتۡنِي عَن نَّفۡسِيۚ وَشَهِدَ شَاهِدٞ مِّنۡ أَهۡلِهَآ إِن كَانَ قَمِيصُهُۥ قُدَّ مِن قُبُلٖ فَصَدَقَتۡ وَهُوَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ
(Bahasa Indonesia)
Dia (Yusuf) berkata, “Dia yang menggodaku dan merayu diriku.” Seorang saksi dari keluarga perempuan itu memberikan kesaksian, “Jika baju gamisnya koyak di bagian depan, maka perempuan itu benar, dan dia (Yusuf) termasuk orang yang dusta.
-Surat Yusuf, Ayat 26

وَإِن كَانَ قَمِيصُهُۥ قُدَّ مِن دُبُرٖ فَكَذَبَتۡ وَهُوَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ
(Bahasa Indonesia)
Dan jika baju gamisnya koyak di bagian belakang, maka perempuan itulah yang dusta, dan dia (Yusuf) termasuk orang yang benar.”
-Surat Yusuf, Ayat 27

11) Melarikan diri dari fitnah wanita.

Nabi Yusuf 'alaihissalam melarikan diri dari fitnah wanita.

وَٱسۡتَبَقَا ٱلۡبَابَ وَقَدَّتۡ قَمِيصَهُۥ مِن دُبُرٖ وَأَلۡفَيَا سَيِّدَهَا لَدَا ٱلۡبَابِۚ قَالَتۡ مَا جَزَآءُ مَنۡ أَرَادَ بِأَهۡلِكَ سُوٓءًا إِلَّآ أَن يُسۡجَنَ أَوۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ
(Bahasa Indonesia)
Dan keduanya berlomba menuju pintu dan perempuan itu menarik baju gamisnya (Yusuf) dari belakang hingga koyak dan keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu. Dia (perempuan itu) berkata, “Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih?”
-Surat Yusuf, Ayat 25

12) Pentingnya keindahan batin.

Keindahan wajah tidak menjadikannya bermaksiat, sebab adanya keindahan aqidah dan akhlaq beliau.

فَلَمَّا سَمِعَتۡ بِمَكۡرِهِنَّ أَرۡسَلَتۡ إِلَيۡهِنَّ وَأَعۡتَدَتۡ لَهُنَّ مُتَّكَـٔٗا وَءَاتَتۡ كُلَّ وَٰحِدَةٖ مِّنۡهُنَّ سِكِّينٗا وَقَالَتِ ٱخۡرُجۡ عَلَيۡهِنَّۖ فَلَمَّا رَأَيۡنَهُۥٓ أَكۡبَرۡنَهُۥ وَقَطَّعۡنَ أَيۡدِيَهُنَّ وَقُلۡنَ حَٰشَ لِلَّهِ مَا هَٰذَا بَشَرًا إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا مَلَكٞ كَرِيمٞ
(Bahasa Indonesia)
Maka ketika perempuan itu mendengar cercaan mereka, diundangnyalah perempuan-perempuan itu dan disediakannya tempat duduk bagi mereka, dan kepada masing-masing mereka diberikan sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf), “Keluarlah (tampakkanlah dirimu) kepada mereka.” Ketika perempuan-perempuan itu melihatnya, mereka terpesona kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka (tanpa sadar) melukai tangannya sendiri. Seraya berkata, “Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia. Ini benar-benar malaikat yang mulia.”
-Surat Yusuf, Ayat 31

13. Lebih memilih untuk mendapatkan siksa manusia daripada siksa Allah Ta'ala

Penjara lebih beliau pilih daripada menerima ajakan wanita-wanita tersebut yang bisa menimbulkan murka Allah Ta'ala.

قَالَ رَبِّ ٱلسِّجۡنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِۖ وَإِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّي كَيۡدَهُنَّ أَصۡبُ إِلَيۡهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ
(Bahasa Indonesia)
Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.”
-Surat Yusuf, Ayat 33

14) Yakin dengan akibat kebaikan-kebaikan yang dilakukan.

Kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan oleh Nabi Yusuf 'alaihissalam tidak disia-siakan oleh Allah Ta'ala.

وَقَدۡ أَحۡسَنَ بِيٓ إِذۡ أَخۡرَجَنِي مِنَ ٱلسِّجۡنِ وَجَآءَ بِكُم مِّنَ ٱلۡبَدۡوِ مِنۢ بَعۡدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّيۡطَٰنُ بَيۡنِي وَبَيۡنَ إِخۡوَتِيٓۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٞ لِّمَا يَشَآءُۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ
(Bahasa Indonesia)
 Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.
-Surat Yusuf, Ayat 100

15) Tidak mengapa meminta pertolongan sesama manusia selama mereka bisa menolong kita.

وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُۥ نَاجٖ مِّنۡهُمَا ٱذۡكُرۡنِي عِندَ رَبِّكَ
(Bahasa Indonesia)
Dan dia (Yusuf) berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua, “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” 
-Surat Yusuf, Ayat 42

16. Kadang seseorang tertuduh melakukan sesuatu yang dia tidak lakukan, maka boleh dia mencari wasilah apa saja untuk menjelaskan kejadian sebenarnya.

وَقَالَ ٱلۡمَلِكُ ٱئۡتُونِي بِهِۦۖ فَلَمَّا جَآءَهُ ٱلرَّسُولُ قَالَ ٱرۡجِعۡ إِلَىٰ رَبِّكَ فَسۡـَٔلۡهُ مَا بَالُ ٱلنِّسۡوَةِ ٱلَّٰتِي قَطَّعۡنَ أَيۡدِيَهُنَّۚ إِنَّ رَبِّي بِكَيۡدِهِنَّ عَلِيمٞ
(Bahasa Indonesia)
Dan raja berkata, “Bawalah dia kepadaku.” Ketika utusan itu datang kepadanya, dia (Yusuf) berkata, “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakan kepadanya bagaimana halnya perempuan-perempuan yang telah melukai tangannya. Sungguh, Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka.”

-Surat Yusuf, Ayat 50

قَالَ مَا خَطۡبُكُنَّ إِذۡ رَٰوَدتُّنَّ يُوسُفَ عَن نَّفۡسِهِۦۚ قُلۡنَ حَٰشَ لِلَّهِ مَا عَلِمۡنَا عَلَيۡهِ مِن سُوٓءٖۚ قَالَتِ ٱمۡرَأَتُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡـَٰٔنَ حَصۡحَصَ ٱلۡحَقُّ أَنَا۠ رَٰوَدتُّهُۥ عَن نَّفۡسِهِۦ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ
(Bahasa Indonesia)
Dia (raja) berkata (kepada perempuan-perempuan itu), “Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya?” Mereka berkata, “Mahasempurna Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya.” Istri Al-Aziz berkata, “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dan merayunya, dan sesungguhnya dia termasuk orang yang benar.”
-Surat Yusuf, Ayat 51

ذَٰلِكَ لِيَعۡلَمَ أَنِّي لَمۡ أَخُنۡهُ بِٱلۡغَيۡبِ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي كَيۡدَ ٱلۡخَآئِنِينَ
(Bahasa Indonesia)
(Yusuf berkata), “Yang demikian itu agar dia (Al-Aziz) mengetahui bahwa aku benar-benar tidak mengkhianatinya ketika dia tidak ada (di rumah), dan bahwa Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.
-Surat Yusuf, Ayat 52

17. Menawarkan diri untuk mengurusi suatu urusan ketika melihat diri kita pantas untuk itu.

Raja memberikan kedudukan tinggi kepada Yusuf 'alaihissalam setelah mentakwilkan mimpinya dan memberi solusinya. Beliau tidak meminta dari kedudukan dunia yang bisa melalaikannya seperti harta yang banyak atau wanita wanita yang cantik atau kedudukan yang membuatnya sombong, tapi beliau hanya minta untuk dijadikan bendaharawan mesir saat itu yang di mana beliau 
1) Pantas
2) Melihat ke depannya dari tahun-tahun paceklik setelah menakwilkan mimpi raja tersebut.

وَقَالَ ٱلۡمَلِكُ ٱئۡتُونِي بِهِۦٓ أَسۡتَخۡلِصۡهُ لِنَفۡسِيۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُۥ قَالَ إِنَّكَ ٱلۡيَوۡمَ لَدَيۡنَا مَكِينٌ أَمِينٞ
(Bahasa Indonesia)
Dan raja berkata, “Bawalah dia (Yusuf) kepadaku, agar aku memilih dia (sebagai orang yang dekat) kepadaku.” Ketika dia (raja) telah bercakap-cakap dengan dia, dia (raja) berkata, “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi di lingkungan kami dan dipercaya.”
-Surat Yusuf, Ayat 54

قَالَ ٱجۡعَلۡنِي عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلۡأَرۡضِۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٞ
(Bahasa Indonesia)
Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.”
-Surat Yusuf, Ayat 55

18) Syariat memuliakan tamu

وَلَمَّا جَهَّزَهُم بِجَهَازِهِمۡ قَالَ ٱئۡتُونِي بِأَخٖ لَّكُم مِّنۡ أَبِيكُمۡۚ أَلَا تَرَوۡنَ أَنِّيٓ أُوفِي ٱلۡكَيۡلَ وَأَنَا۠ خَيۡرُ ٱلۡمُنزِلِينَ
(Bahasa Indonesia)
Dan ketika dia (Yusuf) menyiapkan bahan makanan untuk mereka, dia berkata, “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah penerima tamu yang terbaik?
-Surat Yusuf, Ayat 59

19) Menghindari penyakit 'ain.

وَقَالَ يَٰبَنِيَّ لَا تَدۡخُلُواْ مِنۢ بَابٖ وَٰحِدٖ وَٱدۡخُلُواْ مِنۡ أَبۡوَٰبٖ مُّتَفَرِّقَةٖۖ وَمَآ أُغۡنِي عَنكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٍۖ إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِۖ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُۖ وَعَلَيۡهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ
(Bahasa Indonesia)
Dan dia (Yakub) berkata, “Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda; namun demikian aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan itu hanyalah bagi Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya pula bertawakallah orang-orang yang bertawakal.”
-Surat Yusuf, Ayat 67

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ كَعْبٍ، وَمُجَاهِدٌ، وَالضَّحَّاكُ، وَقَتَادَةُ، والسُّدِّي: إِنَّهُ خَشِيَ عَلَيْهِمُ الْعَيْنَ، وَذَلِكَ أَنَّهُمْ كَانُوا ذَوِي جَمَالٍ وَهَيْئَةٍ حَسَنَةٍ، وَمَنْظَرٍ وَبَهَاءٍ
Berkata Ibnu 'Abbas, Muhammad bin Ka'ab, Mujahid, Ad Dhahhak, Qotadah, Asuddi: Nabi Ya'qub 'alaihissalam mengkhawatirkan penyakit 'ain, sebab mereka (saudara-saudara Nabi Yusuf 'alaihissalam) memiliki wajah-wajah yang tampan dan menakjubkan.

20. Siasat itu ada 2:
1) Boleh: ketika digunakan untuk sesuatu yang wajib, atau sunnah, atau mubah.
2) Tidak boleh: ketika digunakan untuk melakukan yang haram atau untuk meninggalkan yang wajib.

Siasat yang dilakukan oleh Nabi Yusuf 'alaihissalam agar adiknya (bunyamin) bisa tinggal bersamanya adalah siasat yang boleh.

فَلَمَّا جَهَّزَهُم بِجَهَازِهِمۡ جَعَلَ ٱلسِّقَايَةَ فِي رَحۡلِ أَخِيهِ ثُمَّ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ أَيَّتُهَا ٱلۡعِيرُ إِنَّكُمۡ لَسَٰرِقُونَ
(Bahasa Indonesia)
Maka ketika telah disiapkan bahan makanan untuk mereka, dia (Yusuf) memasukkan piala ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan, “Wahai kafilah! Sesungguhnya kalian pasti pencuri.”
-Surat Yusuf, Ayat 70

قَالُواْ وَأَقۡبَلُواْ عَلَيۡهِم مَّاذَا تَفۡقِدُونَ
(Bahasa Indonesia)
Mereka bertanya, sambil menghadap kepada mereka (yang menuduh), “Kamu kehilangan apa?”
-Surat Yusuf, Ayat 71

قَالُواْ نَفۡقِدُ صُوَاعَ ٱلۡمَلِكِ وَلِمَن جَآءَ بِهِۦ حِمۡلُ بَعِيرٖ وَأَنَا۠ بِهِۦ زَعِيمٞ
(Bahasa Indonesia)
Mereka menjawab, “Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh (bahan makanan seberat) beban unta, dan aku jamin itu.”
-Surat Yusuf, Ayat 72

قَالُواْ تَٱللَّهِ لَقَدۡ عَلِمۡتُم مَّا جِئۡنَا لِنُفۡسِدَ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا كُنَّا سَٰرِقِينَ
(Bahasa Indonesia)
Mereka (saudara-saudara Yusuf) menjawab, “Demi Allah, sungguh, kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk berbuat kerusakan di negeri ini dan kami bukanlah para pencuri.”
-Surat Yusuf, Ayat 73

قَالُواْ فَمَا جَزَٰٓؤُهُۥٓ إِن كُنتُمۡ كَٰذِبِينَ
(Bahasa Indonesia)
Mereka berkata, “Tetapi apa hukumannya jika kamu dusta?”
-Surat Yusuf, Ayat 74

قَالُواْ جَزَٰٓؤُهُۥ مَن وُجِدَ فِي رَحۡلِهِۦ فَهُوَ جَزَٰٓؤُهُۥۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلظَّٰلِمِينَ
(Bahasa Indonesia)
Mereka menjawab, “Hukumannya ialah pada siapa ditemukan dalam karungnya (barang yang hilang itu), maka dia sendirilah menerima hukumannya. Demikianlah kami memberi hukuman kepada orang-orang zhalim.”
-Surat Yusuf, Ayat 75

 فَبَدَأَ بِأَوۡعِيَتِهِمۡ قَبۡلَ وِعَآءِ أَخِيهِ ثُمَّ ٱسۡتَخۡرَجَهَا مِن وِعَآءِ أَخِيهِۚ كَذَٰلِكَ كِدۡنَا لِيُوسُفَۖ مَا كَانَ لِيَأۡخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ ٱلۡمَلِكِ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ نَرۡفَعُ دَرَجَٰتٖ مَّن نَّشَآءُۗ وَفَوۡقَ كُلِّ ذِي عِلۡمٍ عَلِيمٞ
(Bahasa Indonesia)
Maka mulailah dia (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan (piala raja) itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami mengatur (rencana) untuk Yusuf. Dia tidak dapat menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami angkat derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui.
-Surat Yusuf, Ayat 76

21. Memilih kata atau kalimat yang baik dalam berkata.

قَالَ مَعَاذَ ٱللَّهِ أَن نَّأۡخُذَ إِلَّا مَن وَجَدۡنَا مَتَٰعَنَا عِندَهُۥٓ إِنَّآ إِذٗا لَّظَٰلِمُونَ
(Bahasa Indonesia)
Dia (Yusuf) berkata, “Aku memohon perlindungan kepada Allah dari menahan (seseorang), kecuali orang yang kami temukan harta kami padanya, jika kami (berbuat) demikian, berarti kami orang yang zhalim.”
-Surat Yusuf, Ayat 79

Beliau mengatakan "kecuali orang yang kami temukan harta kami padanya". Bukan "kecuali orang yang mencuri harta kami".

22. Tidak boleh memberikan kesaksian kecuali apa yang diketahui.

ٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَبِيكُمۡ فَقُولُواْ يَٰٓأَبَانَآ إِنَّ ٱبۡنَكَ سَرَقَ وَمَا شَهِدۡنَآ إِلَّا بِمَا عَلِمۡنَا وَمَا كُنَّا لِلۡغَيۡبِ حَٰفِظِينَ
(Bahasa Indonesia)
Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah, “Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui dan kami tidak mengetahui apa yang di balik itu.
-Surat Yusuf, Ayat 81.

23. Menahan marah.

۞قَالُوٓاْ إِن يَسۡرِقۡ فَقَدۡ سَرَقَ أَخٞ لَّهُۥ مِن قَبۡلُۚ فَأَسَرَّهَا يُوسُفُ فِي نَفۡسِهِۦ وَلَمۡ يُبۡدِهَا لَهُمۡۚ قَالَ أَنتُمۡ شَرّٞ مَّكَانٗاۖ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا تَصِفُونَ
(Bahasa Indonesia)
Mereka berkata, “Jika dia mencuri, maka sungguh sebelum itu saudaranya pun pernah pula mencuri.” Maka Yusuf menyembunyikan (kejengkelan) dalam hatinya dan tidak ditampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya), “Kedudukanmu justru lebih buruk. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan.”
-Surat Yusuf, Ayat 77

24. Keluh kesah kepada Allah Ta'ala tidak menafikan kesabaran, tapi keluh kesah kepada makhluq.

قَالَ إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّي وَحُزۡنِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ
(Bahasa Indonesia)
Dia (Yakub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.
-Surat Yusuf, Ayat 86

25. Tidak putus asa dari rahmat Allah Ta'ala.

يَٰبَنِيَّ ٱذۡهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَاْيۡـَٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡـَٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ
(Bahasa Indonesia)
Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.”
-Surat Yusuf, Ayat 87

26. Cobaan itu ada 2: 
1) pada kebaikan, kebahagiaan, kegembiraan, kesenangan, kekayaan, dan seterusnya 
2) pada keburukan, musibah, kemiskinan, dan lainnya.

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ
(Bahasa Indonesia)
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.
-Surat Al-Anbiya', Ayat 35

Cobaan pada kebaikan dibutuhkan kesyukuran dan pada keburukan dibutuhkan kesabaran, dan inilah yang dijalani oleh Nabi Yusuf 'alaihimassalam.

Cobaan yang menimpa beliau yang membutuhkan kesabaran saat dimakari oleh saudara-saudaranya, dan saat adanya fitnah wanita.

Cobaan yang beliau dapatkan dari kedudukan dunia saat dijadikan sebagai bendaharawan tidak menjadikannya sombong bahkan menjadi orang yang bersyukur dengan semua itu.

27. Bolehnya memberitahu orang lain tentang kemiskinan, kekurangan, penyakit, dan musibah lainnya agar dapat menjadi sebab mendapat bantuan tanpa menyalahkan takdir.

فَلَمَّا دَخَلُواْ عَلَيۡهِ قَالُواْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهۡلَنَا ٱلضُّرُّ وَجِئۡنَا بِبِضَٰعَةٖ مُّزۡجَىٰةٖ فَأَوۡفِ لَنَا ٱلۡكَيۡلَ وَتَصَدَّقۡ عَلَيۡنَآۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَجۡزِي ٱلۡمُتَصَدِّقِينَ
(Bahasa Indonesia)
Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata, “Wahai Al-Aziz! Kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga, maka penuhilah jatah (gandum) untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami. Sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang yang bersedekah.”
-Surat Yusuf, Ayat 88

28. Pentingnya taqwa.

قَالُوٓاْ أَءِنَّكَ لَأَنتَ يُوسُفُۖ قَالَ أَنَا۠ يُوسُفُ وَهَٰذَآ أَخِيۖ قَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَآۖ إِنَّهُۥ مَن يَتَّقِ وَيَصۡبِرۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
(Bahasa Indonesia)
Mereka berkata, “Apakah engkau benar-benar Yusuf?” Dia (Yusuf) menjawab, “Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”
-Surat Yusuf, Ayat 90

29. Berdoa meninggal dalam husnul khatimah.

۞رَبِّ قَدۡ ءَاتَيۡتَنِي مِنَ ٱلۡمُلۡكِ وَعَلَّمۡتَنِي مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِۚ فَاطِرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ أَنتَ وَلِيِّۦ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۖ تَوَفَّنِي مُسۡلِمٗا وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ
(Bahasa Indonesia)
Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang shalih.”
-Surat Yusuf, Ayat 101

30. Memaafkan.

قَالُواْ تَٱللَّهِ لَقَدۡ ءَاثَرَكَ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا وَإِن كُنَّا لَخَٰطِـِٔينَ
(Bahasa Indonesia)
Mereka berkata, “Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau di atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa).”
-Surat Yusuf, Ayat 91

قَالَ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
(Bahasa Indonesia)
Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.
-Surat Yusuf, Ayat 92

31. Bukti kenabian Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَۖ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ أَجۡمَعُوٓاْ أَمۡرَهُمۡ وَهُمۡ يَمۡكُرُونَ
(Bahasa Indonesia)
Itulah sebagian berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal engkau tidak berada di samping mereka, ketika mereka bersepakat mengatur tipu muslihat (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur).
-Surat Yusuf, Ayat 102

Membuktikan bahwa Al Quran adalah firman Allah Ta'ala yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang di mana beliau pun tidak tahu kisah sebenarnya kecuali setelah Allah Ta'ala memberitahukan di dalam al quranNya.

32. Pada asalnya, hawa nafsu mengajak kepada keburukan, tapi bisa kita ajak kepada kebaikan yang dengannya akan menjadi nafsu mutmainnah (jiwa yang tenang)

۞وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِيٓۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ
(Bahasa Indonesia)
Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.
-Surat Yusuf, Ayat 53

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ
(Bahasa Indonesia)
Wahai jiwa yang tenang!
-Surat Al-Fajr, Ayat 27

ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ
(Bahasa Indonesia)
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.
-Surat Al-Fajr, Ayat 28

فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي
(Bahasa Indonesia)
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,
-Surat Al-Fajr, Ayat 29

وَٱدۡخُلِي جَنَّتِي
(Bahasa Indonesia)
dan masuklah ke dalam surga-Ku.
-Surat Al-Fajr, Ayat 30

33. Keutamaan Ilmu dan ahlinya.

1) Keluar dari penjara karena ilmu
2) Mengurus urusan perbendaharaan mesir dengan ilmu

قَالَ ٱجۡعَلۡنِي عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلۡأَرۡضِۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٞ
(Bahasa Indonesia)
Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.”
-Surat Yusuf, Ayat 55

3) Berdoa kepada Allah Ta'ala dengan menyebutkan ilmu yang diberikan kepadanya

34. Pentingnya melakukan sebab, meski pada zahirnya suatu hal tidak akan terjadi dengan sebab itu, tapi jika Allah Ta'ala kehendaki maka akan terjadi. Intinya perlu usaha dalam melakukan sebab.

ٱذۡهَبُواْ بِقَمِيصِي هَٰذَا فَأَلۡقُوهُ عَلَىٰ وَجۡهِ أَبِي يَأۡتِ بَصِيرٗا وَأۡتُونِي بِأَهۡلِكُمۡ أَجۡمَعِينَ
(Bahasa Indonesia)
Pergilah kamu dengan membawa bajuku ini, lalu usapkan ke wajah ayahku, nanti dia akan melihat kembali; dan bawalah seluruh keluargamu kepadaku.”
-Surat Yusuf, Ayat 93

فَلَمَّآ أَن جَآءَ ٱلۡبَشِيرُ أَلۡقَىٰهُ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ فَٱرۡتَدَّ بَصِيرٗاۖ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ
(Bahasa Indonesia)
Maka ketika telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diusapkannya (baju itu) ke wajahnya (Yakub), lalu dia dapat melihat kembali. Dia (Yakub) berkata, “Bukankah telah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
-Surat Yusuf, Ayat 96

Seperti juga pada kisah Maryam dan lainnya.

35. Kehebatan orangtua yang mampu mengenali aroma anak-anaknya.

وَلَمَّا فَصَلَتِ ٱلۡعِيرُ قَالَ أَبُوهُمۡ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَۖ لَوۡلَآ أَن تُفَنِّدُونِ
(Bahasa Indonesia)
Dan ketika kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir), ayah mereka berkata, “Sesungguhnya Aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku).”
-Surat Yusuf, Ayat 94

36. Kebodohan ada 2:
1) Tidak adanya ilmu
2) Ada ilmu tapi tidak beramal atau bermaksiat

قَالَ رَبِّ ٱلسِّجۡنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِۖ وَإِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّي كَيۡدَهُنَّ أَصۡبُ إِلَيۡهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ
(Bahasa Indonesia)
Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh”
-Surat Yusuf, Ayat 33

قَالَ هَلۡ عَلِمۡتُم مَّا فَعَلۡتُم بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذۡ أَنتُمۡ جَٰهِلُونَ
(Bahasa Indonesia)
Dia (Yusuf) berkata, “Tahukah kamu (kejelekan) apa yang telah kamu perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya karena kamu tidak menyadari (akibat) perbuatanmu itu?”
-Surat Yusuf, Ayat 89

وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِۦٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تَذۡبَحُواْ بَقَرَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَتَّخِذُنَا هُزُوٗاۖ قَالَ أَعُوذُ بِٱللَّهِ أَنۡ أَكُونَ مِنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ
(Bahasa Indonesia)
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.”
-Surat Al-Baqarah, Ayat 67

إِنَّمَا ٱلتَّوۡبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٖ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٖ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمٗا
(Bahasa Indonesia)
Sesungguhnya bertobat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertobat. Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.
-Surat An-Nisa', Ayat 17

37. Bolehnya sayembara

قَالُواْ نَفۡقِدُ صُوَاعَ ٱلۡمَلِكِ وَلِمَن جَآءَ بِهِۦ حِمۡلُ بَعِيرٖ وَأَنَا۠ بِهِۦ زَعِيمٞ
(Bahasa Indonesia)
Mereka menjawab, “Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh (bahan makanan seberat) beban unta, dan aku jamin itu.”
-Surat Yusuf, Ayat 72

38. Maksiat sebab rusaknya bumi

قَالُواْ تَٱللَّهِ لَقَدۡ عَلِمۡتُم مَّا جِئۡنَا لِنُفۡسِدَ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا كُنَّا سَٰرِقِينَ
(Bahasa Indonesia)
Mereka (saudara-saudara Yusuf) menjawab, “Demi Allah, sungguh, kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk berbuat kerusakan di negeri ini dan kami bukanlah para pencuri.”
-Surat Yusuf, Ayat 73

Mencuri adalah salah satu maksiat yang dapat merusak suatu negeri.

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ
(Bahasa Indonesia)
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
-Surat Ar-Rum, Ayat 41

39. Berbuat adil. Dan zalim lawan kata adil.

قَالَ مَعَاذَ ٱللَّهِ أَن نَّأۡخُذَ إِلَّا مَن وَجَدۡنَا مَتَٰعَنَا عِندَهُۥٓ إِنَّآ إِذٗا لَّظَٰلِمُونَ
(Bahasa Indonesia)
Dia (Yusuf) berkata, “Aku memohon perlindungan kepada Allah dari menahan (seseorang), kecuali orang yang kami temukan harta kami padanya, jika kami (berbuat) demikian, berarti kami orang yang zhalim.”
-Surat Yusuf, Ayat 79

40. Selain usaha dan sebab, harus adanya serah diri dan serah urusan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. 

قَالَ هَلۡ ءَامَنُكُمۡ عَلَيۡهِ إِلَّا كَمَآ أَمِنتُكُمۡ عَلَىٰٓ أَخِيهِ مِن قَبۡلُ فَٱللَّهُ خَيۡرٌ حَٰفِظٗاۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
(Bahasa Indonesia)
Dia (Yakub) berkata, “Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?” Maka Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.
-Surat Yusuf, Ayat 64

41. Peluang dakwah.

Sebelum Nabi Yusuf 'alaihissalam menakwilkan mimpi ke dua pemuda, beliau terlebih dahulu mendakwahkan tauhid kepada mereka.

قَالَ لَا يَأۡتِيكُمَا طَعَامٞ تُرۡزَقَانِهِۦٓ إِلَّا نَبَّأۡتُكُمَا بِتَأۡوِيلِهِۦ قَبۡلَ أَن يَأۡتِيَكُمَاۚ ذَٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِي رَبِّيٓۚ إِنِّي تَرَكۡتُ مِلَّةَ قَوۡمٖ لَّا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ كَٰفِرُونَ
(Bahasa Indonesia)
Dia (Yusuf) berkata, “Makanan apa pun yang akan diberikan kepadamu berdua aku telah dapat menerangkan takwilnya, sebelum (makanan) itu sampai kepadamu. Itu sebagian dari yang diajarkan Tuhan kepadaku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka tidak percaya kepada hari akhirat.
-Surat Yusuf, Ayat 37

وَٱتَّبَعۡتُ مِلَّةَ ءَابَآءِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَۚ مَا كَانَ لَنَآ أَن نُّشۡرِكَ بِٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۚ ذَٰلِكَ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ عَلَيۡنَا وَعَلَى ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشۡكُرُونَ
(Bahasa Indonesia)
Dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishak dan Yakub. Tidak pantas bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (semuanya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.
-Surat Yusuf, Ayat 38

يَٰصَٰحِبَيِ ٱلسِّجۡنِ ءَأَرۡبَابٞ مُّتَفَرِّقُونَ خَيۡرٌ أَمِ ٱللَّهُ ٱلۡوَٰحِدُ ٱلۡقَهَّارُ
(Bahasa Indonesia)
Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa?
-Surat Yusuf, Ayat 39

مَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسۡمَآءٗ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ
(Bahasa Indonesia)
Apa yang kamu sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yang kamu buat-buat baik oleh kamu sendiri maupun oleh nenek moyangmu. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
-Surat Yusuf, Ayat 40

42. Kemudahan setelah kesusahan.

فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا
(Bahasa Indonesia)
Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,
-Surat Al-Insyirah, Ayat 5

إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا
(Bahasa Indonesia)
sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.
-Surat Al-Insyirah, Ayat 6

فَلَمَّا ذَهَبُواْ بِهِۦ وَأَجۡمَعُوٓاْ أَن يَجۡعَلُوهُ فِي غَيَٰبَتِ ٱلۡجُبِّۚ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِ لَتُنَبِّئَنَّهُم بِأَمۡرِهِمۡ هَٰذَا وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ
(Bahasa Indonesia)
Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkan ke dasar sumur, Kami wahyukan kepadanya, “Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.”
-Surat Yusuf, Ayat 15

43. Menambah keimanan dengan menghayati ayat-ayat Allah, qouliyah dan kauniyah.

۞لَّقَدۡ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخۡوَتِهِۦٓ ءَايَٰتٞ لِّلسَّآئِلِينَ
(Bahasa Indonesia)
Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya.
-Surat Yusuf, Ayat 7

Tidak menjadi ayat bagi orang yang tidak mau tahu, dan masa bodoh, atau yang telah dikunci mati hatinya 

إِنَّ ٱلَّذِينَ حَقَّتۡ عَلَيۡهِمۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ
(Bahasa Indonesia)
Sungguh, orang-orang yang telah dipastikan mendapat ketetapan Tuhanmu, tidaklah akan beriman,
-Surat Yunus, Ayat 96

وَلَوۡ جَآءَتۡهُمۡ كُلُّ ءَايَةٍ حَتَّىٰ يَرَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ
(Bahasa Indonesia)
meskipun mereka mendapat tanda-tanda (kebesaran Allah), hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.
-Surat Yunus, Ayat 97

44. Pentingnya musyawarah.

Mereka orang-orang yang menginginkan keburukan pun bermusyawarah dalam menetapkan keputusan

ٱقۡتُلُواْ يُوسُفَ أَوِ ٱطۡرَحُوهُ أَرۡضٗا يَخۡلُ لَكُمۡ وَجۡهُ أَبِيكُمۡ وَتَكُونُواْ مِنۢ بَعۡدِهِۦ قَوۡمٗا صَٰلِحِينَ
(Bahasa Indonesia)
Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat agar perhatian ayah tertumpah kepadamu, dan setelah itu kamu menjadi orang yang baik.”
-Surat Yusuf, Ayat 9

قَالَ قَآئِلٞ مِّنۡهُمۡ لَا تَقۡتُلُواْ يُوسُفَ وَأَلۡقُوهُ فِي غَيَٰبَتِ ٱلۡجُبِّ يَلۡتَقِطۡهُ بَعۡضُ ٱلسَّيَّارَةِ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ
(Bahasa Indonesia)
Seorang di antara mereka berkata, “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu hendak berbuat.”
-Surat Yusuf, Ayat 10

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ
(Bahasa Indonesia)
Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.
-Surat Ali 'Imran, Ayat 159

وَٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِرَبِّهِمۡ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَمۡرُهُمۡ شُورَىٰ بَيۡنَهُمۡ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ
(Bahasa Indonesia)
dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka,
-Surat Asy-Syura, Ayat 38

45. Bahasa al quran berbahasa arab.

Bahasa arab akan selalu ada dan terjamin sejalan dengan adanya al quran.

إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا عَرَبِيّٗا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ
(Bahasa Indonesia)
Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Qur'an berbahasa Arab, agar kamu mengerti.
-Surat Yusuf, Ayat 2

46. Pentingnya Jujur

يُوسُفُ أَيُّهَا ٱلصِّدِّيقُ أَفۡتِنَا فِي سَبۡعِ بَقَرَٰتٖ سِمَانٖ يَأۡكُلُهُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٞ وَسَبۡعِ سُنۢبُلَٰتٍ خُضۡرٖ وَأُخَرَ يَابِسَٰتٖ لَّعَلِّيٓ أَرۡجِعُ إِلَى ٱلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَعۡلَمُونَ
(Bahasa Indonesia)
”Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh (ekor sapi betina) yang kurus, tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui.”
-Surat Yusuf, Ayat 46

47. Mengakui dosa dan kesalahan.

قَالَ مَا خَطۡبُكُنَّ إِذۡ رَٰوَدتُّنَّ يُوسُفَ عَن نَّفۡسِهِۦۚ قُلۡنَ حَٰشَ لِلَّهِ مَا عَلِمۡنَا عَلَيۡهِ مِن سُوٓءٖۚ قَالَتِ ٱمۡرَأَتُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡـَٰٔنَ حَصۡحَصَ ٱلۡحَقُّ أَنَا۠ رَٰوَدتُّهُۥ عَن نَّفۡسِهِۦ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ
(Bahasa Indonesia)
Dia (raja) berkata (kepada perempuan-perempuan itu), “Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya?” Mereka berkata, “Mahasempurna Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya.” Istri Al-Aziz berkata, “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dan merayunya, dan sesungguhnya dia termasuk orang yang benar.”
-Surat Yusuf, Ayat 51

48. Meminta doa orang tua yang masih hidup.

قَالُواْ يَٰٓأَبَانَا ٱسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَآ إِنَّا كُنَّا خَٰطِـِٔينَ
(Bahasa Indonesia)
Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa).”
-Surat Yusuf, Ayat 97

49. Menyayangi dan menjaga anak-anak kita.

قَالَ إِنِّي لَيَحۡزُنُنِيٓ أَن تَذۡهَبُواْ بِهِۦ وَأَخَافُ أَن يَأۡكُلَهُ ٱلذِّئۡبُ وَأَنتُمۡ عَنۡهُ غَٰفِلُونَ
(Bahasa Indonesia)
Dia (Yakub) berkata, “Sesungguhnya kepergian kamu bersama dia (Yusuf) sangat menyedihkanku dan aku khawatir dia dimakan serigala, sedang kamu lengah darinya.”
-Surat Yusuf, Ayat 13

50. Kisah-kisah dalam al quran adalah nyata dan penuh dengan pelajaran.

1/3 alquran adalah kisah

لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ مَا كَانَ حَدِيثٗا يُفۡتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَتَفۡصِيلَ كُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ

(Bahasa Indonesia)
Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu 
1) terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. 
2) bukanlah cerita yang dibuat-buat, 
3) tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, 
4) menjelaskan segala sesuatu, 
5) (sebagai) petunjuk dan 
6) rahmat bagi orang-orang yang beriman.
-Surat Yusuf, Ayat 111

Wallahu a'lam
🖋 Sayyid Syadly Lc

Biografi Singkat Abu Bakr Ash Shiddiq Radhiyallahu Anhu


Bismillãh

Biografi Singkat Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu

Segala puji bagi Allah Ta'ala yang tidak henti-hentinya memberikan nikmat kepada para makhluqNya, yang telah berfirman dalam surah at taubah ayat ke 40:

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
"Jika kalian tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya (yaitu Abu Bakr radhiyallahu 'anhu), “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana". [Qs At-Taubah (9):40].

Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang telah memenuhi perintah Allah Ta'ala untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya, dimana beliau shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: 

إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا
"Aku berlepas diri kepada Allah dari mengambil salah seorang di antara kalian sebagai kekasih, karena Allah Ta'ala telah menjadikanku sebagai kekasih sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Dan kalaupun seandainya aku mengambil salah seorang dari umatku sebagai kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih" [HR Muslim 532 rahimahullah].

Sadaraku saudariku seiman...

Sahabat yaitu sahabat rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah gelar yang paling mulia dari sekedar gelar al imam, al hafidzh, al 'allamah, asy syaikh, al ustadz, dan seterusnya, karena merekalah generasi terbaik ummat ini, generasi yang bertemu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, beriman dengannya, dan mati dalam keadaan iman. Dalam hadits disebutkan:

إِنَّ خَيْرَكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ 
"Sebaik-baik kalian adalah yang hidup pada zamanku (para sahabatku) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian orang-orang yang datang setelah mereka". [HR Al Bukhari 2651 dan Muslim 2535 rahimahumallah].

Salah satu diantara sahabat yang sangat terkenal adalah sahabat Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu, tentang beliau, persilahkanlah kami menjelaskan beberapa sisi kehidupannya:

Pertama: 
Nama beliau adalah 'Abdullah bin 'Utsman, beliau lebih dikenal dengan Abu Bakr bin Abu Quhãfah, lahir 2 tahun setelah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, beliau khalifah pertama yang hak dan sah kaum muslimin setelah kematian Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, beliau disifati oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sebagai As Shiddîq (yang membenarkan), sebagaimana hadits:

صَعِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُحُدًا وَمَعَهُ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ وَقَالَ اسْكُنْ أُحُدُ أَظُنُّهُ ضَرَبَهُ بِرِجْلِهِ فَلَيْسَ عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendaki bukit Uhud bersama Abu Bakr, 'Umar dan 'Utsman lalu bukit itu bergetar. Maka beliau bersabda: "Tenanglah Uhud" seingatku beliau menghentakkan kaki beliau seraya berujar "Karena di atas kamu sekarang tidak lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang (yang akan mati) syahid" [HR Al Bukhari 3699 rahimahullah dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu].

Kedua:
Abu Bakr radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang paling mulia menurut kesepakatan kaum muslimin, paling afdhal, nomor satu dari tingkatan para sahabat, beliau orang yang paling pertama masuk islam dari kalangan laki-laki, dan beliau adalah da'i pertama dari ummat ini, dan sebab dakwah beliaulah, sahabat-sahabat senior masuk islam, seperti 'Utsman bin 'Affan, Thalhah, Az Zubair, 'Abdur Rahman bin 'Auf, dan Abu 'Ubaidah radhiyallahu 'anhum.

Ketiga:
Beliau radhiyallahu 'anhu termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga, sebagaimana hadits shahih, 

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِي الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ.
Dari Abdurrahman bin 'Auf dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Abu Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali masuk surga, Thalhah masuk surga, Zubeir masuk surga, Abdurrahman bin 'Auf masuk surga, Sa'ad masuk surga, Sa'id masuk surga dan Abu Ubaidah bin Jarah masuk surga."
[HR Abu Dawud 4649, At Tirmidzi 3747, dan Ibnu Majah 133].

Keempat:
Beliau telah menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah Ta'ala ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk bersedekah, dalam hadits yang dihasankan oleh Al Albani rahimahullah disebutkan:

 عن عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ
أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ مَالًا عِنْدِي فَقُلْتُ الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قُلْتُ مِثْلَهُ قَالَ وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قُلْتُ لَا أُسَابِقُكَ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا
Dari 'Umar bin Al Khathab radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan Kami agar bersedekah, dan hal tersebut bertepatan dengan keberadaan harta yang saya miliki. Lalu saya mengatakan; apabila aku dapat mendahului Abu Bakr pada suatu hari maka hari ini aku akan mendahuluinya. Kemudian saya datang dengan membawa setengah hartaku, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?" Saya katakan; harta yang sama seperti itu. Ia berkata; kemudian Abu Bakar datang dengan membawa seluruh yang ia miliki. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai Abu Bakr, apakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?" Ia berkata; saya tinggalkan untuk mereka Allah dan RasulullahNya. Maka saya katakan; saya tidak akan dapat mendahuluimu kepada sesuatupun selamanya. [HR Abu Dawud 1678 dan At Tirmidzi 3675]

Kelima:
Beliau adalah orang yang paling dicintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari laki-laki, dalam hadits disebutkan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السُّلَاسِلِ قَالَ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ قُلْتُ مِنْ الرِّجَالِ قَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ عُمَرُ فَعَدَّ رِجَالًا فَسَكَتُّ مَخَافَةَ أَنْ يَجْعَلَنِي فِي آخِرِهِمْ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengutusnya Amru bin Ash untuk memimpin pasukan kaum muslimin dalam perang Dzatus Salasil. Amru bin Al Ash berkata; Aku menemui Rasulullah seraya bertanya; Ya Rasulullah, siapakah orang yang engkau cintai? Rasulullah menjawab; 'Aisyah.' Lalu saya tanyakan lagi; Kalau dari kaum laki-laki, siapakah orang yang paling engkau cintai? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ayah Aisyah (Abu Bakr).' saya bertanya lagi; lalu siapa? Rasulullah menjawab: 'Umar bin Khaththab.' Kemudian beliau menyebutkan beberapa orang sahabat lainnya. Setelah itu aku pun diam karena aku takut termasuk orang yang paling terakhir.' [HR Al Bukhari 4358 dan Muslim 2384].

Keenam:
Beliau adalah orang yang paling rajin beramal. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bertanya:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ
"Siapakah di antara kalian yang pagi ini sedang berpuasa?" Abu Bakar menjawab, "Aku." Beliau bertanya lagi: "Siapa di antara kalian yang hari ini telah menghantarkan jenazah?" Abu Bakar menjawab: "Aku." Beliau bertanya lagi: "Siapa di antara kalian yang hari ini telah memberi makan orang miskin?" Abu Bakar menjawab: "Aku." Beliau bertanya lagi: "Siapa di antara kalian yang hari ini telah menjenguk orang sakit?" Abu Bakar menjawab, "Aku." Selanjutnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah semua itu ada pada seseorang kecuali dia pasti akan masuk surga." [HR Muslim 1028].

Ketujuh:
Keimanan beliau sangat kuat, sebagaimana perkataan 'Umar bin Al Khattab radhiyallahu 'anhu:

لَوْ وُزِنَ إِيْمَانُ أَبِي بَكْرٍ بإيمان أهل الأرض لرجح بهم
"Sekiranya iman Abu Bakr ditimbang dengan iman penduduk bumi maka lebih berat iman beliau atas mereka". [HR Al Baihaqi dalam syuabul iman dengan sanad yang shahih].

Kedelapan:
Yang paling terdepan dalam memahamkan kepada manusia tentang tauhid dan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah rasul dan juga manusia biasa meninggal dunia, sebagaimana manusia lainnya.

Ketika Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam wafat, manusia sangat bersedih seakan tidak mempercayainya, lalu beliau langsung berkhutbah seraya berkata: "wahai manusia barangsiapa yang menyembah Muhammad sunngguh Muhammad telah meninggal dunia, dan barangsiapa yang menyembah Allah sungguh Allah Maha Hidup dan tidak akan mati" lalu beliau menyebutkan firman Allah Ta'ala:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ
"Sesungguhnya anda Muhammad mati dan sesungguhnya merekapun mati" [Qs Az-Zumar (39):30]

Kesembilan:
Sangat tawadhu dan adil dalam masa kekhilafahan beliau, ketika diangkat menjadi khalifah beliau berkata dalam khutbah yang panjang dan di bawah ini sebagian khutbah beliau:

أيها الناس، إني قد وُلِّيت عليكم ولست بخيركم، فإن أحسنت فأعينوني، وإن أسأت فقوِّموني
"Wahai manusia! sesungguhnya saya diberikan amanah mengurus kalian dan saya bukanlah orang terbaik di antara kalian, jika saya melakukan kebaikan maka bantulah saya, dan jika saya melakukan keburukan maka nasihatilah saya".

Beliau memerangi orang-orang yang membedakan antara shalat dan zakat dalam hal kewajiban seraya mengatakan:

والله لأقاتلن من فرّق بين الصلاة والزكاة.
"Demi Allah, saya akan memerangi orang yang membedakan shalat dan zakat".

Dan pada zaman beliau pula al quran dikumpulkan.

Kesepuluh:
Beliau wafat pada tahun ke 13 hijriah, 2 tahun 3 bulan setelah wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau dikebumikan di sisi mayat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Saudara saudariku seiman...

Semoga kita dikumpulkan di surga bersama Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyallahu 'anhum dan orang-orang yang kita cintai lainnya.

Wallahu a'lam
✒ Sayyid Syadly, Lc
Dari berbagai sumber

Aisyah Istri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Akhir-akhir ini sedang ramai di media sosial perbincangan seputar Aisyah rhadiyallahu anha istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Berikut ini beberapa di antara keutamaan Aisyah -rhadiyallahu anha- yang perlu kita ketahui:
1. Wanita yang paling dicintai oleh Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-.
Di dalam hadis disebutkan, suatu ketika sahabat Amr bin Ash rhadiyallahu anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
(“أي الناس إحب إليك؟” قال: “عائشة”) متفق عليه.
“(Wahai Rasulullah) Siapa manusia yang paling engkau cintai?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Aisyah”. HR.Bukhari dan Muslim.
2. Perawi hadis terbanyak dari golongan wanita.
Disebutkan oleh para ulama kita bahwa Aisyah rhadiyallahu anha adalah sahabat urutan pertama dari kalangan wanita yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yaitu dengan jumlah hadis yang berkisar 2210 hadis. Beliau rhadiyallahu anha datang di urutan ke empat setelah Abu Hurairah (5374), Abdullah bin Umar (2630) dan Anas bin Malik (2286) rhadiyallahu anhum jamian.
3. Istri Nabi shallallahu alaihi wasallam di dunia dan akhirat.
Disebutkan dalam hadis, bahwa suatu ketika malaikat Jibril alaihissalam datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam bentuk rupa Aisyah rhadiyallahu anha. Lalu kemudian beliau alaihissalam (Jibril) mengatakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
(هذه زوجتك في الدنيا والآخرة) رواه الترمذي
“Ini (Aisyah) adalah istrimu di dunia dan di akhirat” HR.Tirmidzi.
4. Malaikat Jibril menyampaikan salam kepadanya.
Di dalam hadis, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
(يا عائش هذا جبريل يقرئك السلام) رواه البخاري
“Wahai Aisyah, ini adalah Jibril (datang) menyampaikan salam kepadamu” HR.Bukhari.
5. Perintah Nabi untuk mencintainya.
Di dalam hadis disebutkan bahwa suatu ketika Nabi shallahu alaihi wasallam berkata kepada putrinya Fatimah rhadiayallahu anha:
(ألستِ تحبِّين ما أحبُّ؟!) قالت: بلى، قال: (فأحِبي هذه) يعني عائشةَ. رواه مسلم
“Bukankah engkau mencintai apa yang aku cintai?!” Beliau (Fatimah) berkata: “Tentu saja”, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maka cintailah ini” yakni Aisyah rhadiyallahu anha. HR.Muslim.
6. Allah membebaskannya dari tuduhan keji kaum munafikin dengan ayat yang turun yang dibaca hingga akhir zaman.
Dalam peristiwa yang disebut “Hadisul Ifki (Berita Dusta)” yang dimana kaum munafikin mengehembuskan fitnah keji (Tuduhan berzina) kepada Aisyah rhadiyallahu anha, Allah subhanahu wata’ala menurunkan langsung dari atas langitNya yang paling tinggi pembelaanNya kepada beliau rhadiyallahu anha dengan ayat yang dibaca dalam Al-Qur’an hingga akhir zaman, yaitu ayat ke 11 sampai dengan ayat ke 20 dari surat An-Nur.
7. Wanita yang membawa berkah bagi ummat.
Disebutkan oleh para ulama tafsir kita bahwa sebab turunnya ayat tayammum (keringanan menggunakan debu dalam bersuci) adalah disebabkan oleh peristiwa hilangnya kalung Aisyah rhadiyallahu anha.
Usaid bin Hudair rhadiyallahu anhu mengatakan kepada Aisyah tentang peristiwa ini:
(فوالله ما نزَل بكِ أمر قط إلا جعل الله لك منه مخرجًا، وجعل لنا منه بركة).
“Demi Allah, tidaklah terjadi sesuatu kejadian apapun kepadamu kecuali Allah menjadikan bagimu jalan keluar dan menjadikan bagi kami keberkahan”.
8. Istri Nabi paling cantik yang bergelar “Humairo (Pipi kemerahan)”.
Di dalam hadis, suatu ketika terdapat beberapa orang dari Habasyah sedang bermain-main pedang di depan rumah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau shallallahu alaihi wasallam mengatakan:
(يا حميراء، أتحبين أن تنظري إليهم؟) رواه النسائي.
“Wahai Humairo (Pipi kemerahan), apakah engkau suka melihatnya?” HR.An-Nasa’i.
9. Wanita yang memiliki rasa malu yang tinggi.
Aisyah rhadiyallahu anha mengatakan tentang kafilah-kafilah yang senantiasa berlalu lalang disekitarnya ketika musim haji:
(فَإِذَا حَاذَوْا بِنَا سَدَلَتْ إِحْدَانَا جِلْبَابَهَا مِنْ رَأْسِهَا عَلَى وَجْهِهَا ، فَإِذَا جَاوَزُونَا كَشَفْنَاهُ)
“Maka apabila mereka (Kafilah-kafilah) sedang lewat di depan kami, maka setiap dari kami menjulurkan jilbabnya dari atas kepalanya ke bawah wajahnya, dan apabila mereka telah lewat, maka kami membukanya kembali”.
(Sebagaimana diketahui bahwa wanita ketika berihram dilarang memakai niqob, namun karena tingginya rasa malu Aisyah beserta para sahabat wanita lainnya, maka mereka senantiasa berusaha untuk menutup wajah mereka dari pandangan laki-laki meskipun dalam keadaan dilarang menggunakan niqob).
10. Istri Nabi shallallahu alaihi wasallam di syurga kelak.
Di dalam hadis, Rasulullullah shallallahu alaihi wasallam bertanya dengan pertanyaan cinta kepada Aisyah rhadiyallahu anha:
(أمَا ترضين أن تكوني زوجتي في الجنة؟!). رواه ابن حبان والحاكم.
“Apakah engkau tidak rida bila engkau menjadi istriku kelak di syurga?” HR.Ibnu Hibban dan Hakim.
11. Persaksian Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang kebaikannya.
Di dalam hadis, Nabi shallallahu alaihi wasallam mengatakan tentang Aisyah ketika peristiwa “Hadisul ifki” terjadi:
(يا معشر المسلمين، مَن يَعذِرُني من رجلٍ قد بلغَني أذاه في أهل بيتي؟ فوالله، ما علمتُ على أهلي إلا خيرًا).
“Wahai segenap kaum muslimin!! Siapakah yang bisa memberikan uzur bagiku tentang orang-orang yang telah menyakitiku tentang keluargaku (Aisyah)?? Demi Allah, saya tidak mengetahui dari keluargaku (Aisyah) kecuali kebaikan!!” HR.Bukhari dan Muslim.
12. Wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam pelukannya.
Di dalam hadis, Aisyah rhadiyallahu anha mengatakan:
(إنَّ مِن نعم الله عليَّ أنَّ رسول الله توفِّي في بيتي، وفي يومي، وبين سَحري ونَحري) رواه البخاري
“Sesungguhnya di antara nikmat Allah kepadaku adalah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meninggal di rumahku, dihari giliranku dan di antara leher dan dadaku” HR.Bukhari.
Inilah di antara beberapa keutamaan Aisyah rhadiyallahu anha istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ibu kita semua yang perlu kita ketahui dan yang menunjukkan betapa begitu mulia dan istimewanya derajat beliau rhadiyallahu anha di sisi Allah dan di sisi RasululNya -shallallahu alaihi wasallam-.
Semoga bermanfaat bagi kita semua,
Wassalam.
Oleh: Muhammad Harsya Bachtiar, Lc. MA.