Puasa Tapi Tidak Shalat, Sahkah?


Sahkah Puasa Tanpa Shalat?

Bismillaah
Walhamdulillaah 
Wasshalaatu wassalaamu 'alaa rosuulillaah, ammaa ba'du.

Seseorang yang hanya puasa tapi tidak shalat maka puasanya sia-sia, puasanya batal, tidak sah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja.” 
[HR. Ahmad 8501].

Dari hadits ini diambil faidah bahwa puasa bukan sekedar menahan rasa lapar dan dahaga saja, dan salah satu yang perlu diperhatikan adalah perkara shalat agar puasa tidak sia-sia.

Dari Mihjan radhiyallahu 'anhu berkata,

أَنَّهُ كَانَ فِى مَجْلِسٍ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَذَّنَ بِالصَّلاَةِ – فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ رَجَعَ وَمِحْجَنٌ فِى مَجْلِسِهِ – فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مَنَعَكَ أَنْ تُصَلِّىَ أَلَسْتَ بِرَجُلٍ مُسْلِمٍ ». قَالَ بَلَى وَلَكِنِّى كُنْتُ قَدْ صَلَّيْتُ فِى أَهْلِى فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا جِئْتَ فَصَلِّ مَعَ النَّاسِ وَإِنْ كُنْتَ قَدْ صَلَّيْتَ

“Beliau pernah berada di majelis bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dikumandangkan azan untuk shalat. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, lalu mengerjakan shalat, sedangkan Mihjan masih duduk di tempat semula. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Apa yang menghalangimu shalat, bukankah engkau adalah seorang muslim?” Lalu Mihjan mengatakan, “Betul. Akan tetapi saya sudah melaksanakan shalat bersama keluargaku.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan padanya, “Apabila engkau datang, shalatlah bersama orang-orang, walaupun engkau sudah shalat.” 
[HR. An-Nasa’i 858]

Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan pembeda antara muslim dan kafir dengan shalat. Maksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada Mihjan, seandainya ia muslim, maka pasti akan shalat. Hal ini sama saja jika dikatakan, “Kenapa engkau tidak berbicara, bukankah engkau adalah orang yang mampu berbicara?” atau “Kenapa engkau tidak bergerak, bukankah engkau orang yang bisa bergerak?”

Tabi'in Abdullah bin Syaqiq mengatakan:
 
كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ
“Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan seorang kafir kecuali shalat.” 
[HR. Tirmidzi 2622].

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ وَ الشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلاَةِ
“Pembatas antara seorang muslim dengan kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.”
[HR. Muslim]

Sabda lainnya:

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” 
[HR. Abu Dawud].

Jadi karena meninggalkan shalat seseorang menjadi kafir, maka puasanya pun batal, sebab syarat sah puasa adalah muslim.

Maka bagi siapa yang masih meninggalkan shalat, mesti kembali kepada Allah Ta'ala dengan bertaubat nasuha setaubat-taubatnya, menyesal, kembali shalat, bertekad untuk tidak lagi meninggalkannya.

Dan perlu diingatkan, shalat bukan hanya di bulan ramadhan, tetapi terus dilakukan juga di luar bulan ramadhan.

Wallahu a'lam
✒ Sayyid Syadly, Lc

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »