Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Silsilah Pembelaan Para Ulama Dan Duat


alinshof.com

*SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU’AT*

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU’AT (bagian I)
http://www.alinshof.com/2009/12/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat.html?m=1

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU’AT (Bagian II)
http://www.alinshof.com/2009/12/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat_18.html?m=1

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU’AT, (Bagian III)
http://www.alinshof.com/2009/12/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat_9516.html?m=1

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU’AT (Bagian IV)
http://www.alinshof.com/2009/12/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat_22.html?m=1

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU'AT (Bagian V)
http://www.alinshof.com/2010/01/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat.html?m=1

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU'AT (BAGIAN VI)
http://www.alinshof.com/2010/01/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat_19.html?m=1

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU'AT (Bagian VII)
http://www.alinshof.com/2010/02/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat.html?m=1

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU'AT JILID 2 (Menjawab Syubhat Bagian I)
http://www.alinshof.com/2010/03/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat_03.html?m=1

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU'AT JILID 2 (Menjawab Syubhat Bagian II)
http://www.alinshof.com/2010/04/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat.html?m=1

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU'AT JILID 2 (Menjawab Syubhat Bagian III)
http://www.alinshof.com/2010/05/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat.html?m=1

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU'AT JILID 2 (Menjawab Syubhat Bagian IV)
http://www.alinshof.com/2010/07/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat.html?m=1

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU'AT JILID 2 (Menjawab Syubhat Bagian V / Bagian Pertama)
http://www.alinshof.com/2010/07/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat_22.html?m=1

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU'AT JILID 2 (Menjawab Syubhat Bagian V / Bagian Kedua)
http://www.alinshof.com/2010/08/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat.html?m=1

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU'AT JILID 2 (Menjawab Syubhat Bagian VI)
http://www.alinshof.com/2010/09/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat.html?m=1

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU'AT JILID 2 (Menjawab Syubhat Bagian VII / Bagian Pertama)
http://www.alinshof.com/2010/11/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat.html?m=1

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU'AT JILID 2 (Menjawab Syubhat Bagian VII / Bagian Kedua)
http://www.alinshof.com/2010/12/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat.html?m=1

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU'AT JILID 2 (Menjawab Syubhat Bagian VII / Bagian Ketiga)
http://www.alinshof.com/2011/02/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat.html?m=1


Dikumpulkan dan disusun oleh

🖋 Sayyid Syadly Lc 

Metode Belajar Islam Bagi Pemula


Metode Belajar Islam Bagi Pemula

Pertanyaan
Bagaimana Cara Belajar Islam Bagi Pemula?

Jawaban
Bismillaah
Walhamdulillaah
Washshalaatu wassalaamu 'alaa rosuulillaah, amma ba'du.

1. Sedikit demi sedikit, tidak dalam jumlah banyak sekaligus.

2. Al Aham fal muhim, yang paling penting kemudian yang penting.

3. Bertahap, ilmu dasar kemudian ilmu tingkatan selanjutnya.

4. Punya guru, agar memperbaiki kesalahan, dan memahamkan lebih banyak dan lebih baik.

5. Baca buku ringkasan sebelum tebal dan panjang, supaya tidak bosan dan tidak patah semangat.

Bismillah

Belajar Islam Pemula

Alhamdulillah, puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah Ta'ala yang memberikan nikmat begitu banyak dan mahal, tidak ada yang mampu menghitung dan membayar nikmat tersebut.

Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai suri teladan ummat, sebagai nabi dan hamba Allah yang paling mulia, sebagai utusan yang telah mengembang amanah dengan penuh tanggung jawab.

Teman-teman sekalian yang sama mengharapkan rahmat dan kasih sayang Allah Ta'ala.

Sebagai seorang muslim tentunya harus mengetahui tentang apa itu islam sebagai agamanya, dan apa saja yang dipelajari di dalamnya, serta apa saja yang mesti diamalkan juga didakwahkan.

Seorang muslim haruslah belajar tentang agamanya, apatahlagi pelajaran-pelajaran yang merupakan pokok kehidupannya, seperti apa itu syahadatain, dan apa konsekwensinya?, seperti apa itu shalat, dan apasaja yang perlu diperhatikan darinya?, seperti apa itu zakat, puasa, haji, jual beli, sewa menyewa, hukum usrah, hukum pidana, dan pelajaran lainnya.

Ada 5 hal yang ingin kami sampaikan dalam belajar islam untuk pemula.

Pertama:
Secara sedikit demi sedikit.

Yang dimana perlu dengan yang namanya kesabaran, karena tidak sabarnya seseorang mampu mematahkan semangat perjalanan dalam belajarnya sehingga menjadi bosan dan putus di tengah jalan.

Perkataan yang masy-hur

من رام العلم جملة ذهب عنه جملة
“Barangsiapa yang mempelajari ilmu langsung sekaligus dalam jumlah yang banyak, akan banyak pula ilmu yang hilang”
[Hilyatu Thalibil 'Ilmi]

Makanya mengapa Allah Ta'ala turunkan al Quran kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam secara sedikit demi sedikit, tidak langsung sekaligus

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا
Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar). [Surat Al-Furqan 32]

Kedua:
Terpenting kemudian yang penting

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda kepada Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ حِينَ بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata, kepada Mu'adz bin Jabal Radhiyalahu'anhu ketika Beliau mengutusnya ke negeri Yaman: "Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum Ahlul Kitab, jika kamu sudah mendatangi mereka maka ajaklah mereka untuk bersaksi tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka telah mentaati kamu tentang hal itu, maka beritahukanlah mereka bahwa Allah mewajibkan bagi mereka shalat lima waktu pada setiap hari dan malamnya. Jika mereka telah mena'ati kamu tentang hal itu maka beritahukanlah mereka bahwa Allah mewajibkan bagi mereka zakat yang diambil dari kalangan orang mampu dari mereka dan dibagikan kepada kalangan yang faqir dari mereka. Jika mereka mena'ati kamu dalam hal itu maka janganlah kamu mengambil harta-harta terhormat mereka dan takutlah terhadap do'anya orang yang terzholimi karena antara dia dan Allah tidak ada hijab (pembatas yang menghalangi) nya".
[H.R Bukhari 1395 dan Muslim 19]

Dari hadits ini, mengajarkan kepada kita tentang prioritas dalam berdakwah, maka untuk belajar islam lebih diprioritaskan lagi dalam memilih ilmu yang prioritas, ilmu yang jelas pokok dan dasar buat kita adalah ilmu tauhid kemudian setelahnya.

Teman-teman sekalian yang sama mengharapkan ampunan dan penerimaan taubat dari Allah Ta'ala.

Ketiga:
Bertahap
Jangan langsung tingkatan tinggi, mesti dari yang dasar terlebih dahulu, Allah Ta'ala berfirman:

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!”
[Surat Ali 'Imran 79]

عن ابن عباس أن الرباني الذي يعلم الناس صغار العلم قبل كباره
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa rabbani itu adalah yang mengajarkan manusia dari ilmu dasar sebelum ilmu tingkat tinggi.

Dapat dipahami bahwa ulama rabbani adalah yang mengajar dari ilmu dasar lalu pindah ke ilmu tingkat selanjutnya, maka kita yang menuntut ilmu pun memilih majlis-majlis ilmu dasar, kemudiam pindah ke majlis tingkatan berikutnya.

Jika belajar quran, atau hadits, atau
aqidah, atau fiqh, atau bahasa arab, atau siroh, dan seterusnya, jangan melompat ke bab-bab pertengahan sebelum mempelajari terlebih dahulu bab-bab awal.

Keempat:
Dengan guru
Seseorang bisa saja belajar ilmu syar’i hanya dari buku yang dia baca semata. Metode ini memiliki beberapa sisi negatif, di antaranya yaitu butuh waktu yang lama, ilmunya lemah, dan kadang kita jumpai seseorang yang seperti ini banyak terjatuh dalam kesalahan karena lemahnya pemahaman atau karena buku yang dibacanya sesat dan menyesatkan. Oleh karena itu, seseorang perlu belajar dengan bimbingan guru. Dengan adanya guru, maka dialah yang akan membimbing dan membetulkan jika ada kesalahan dan waktu yang dibutuhkan untuk belajar menjadi lebih singkat. Belajar langsung dengan guru, memliki beberapa faedah:

Menempuh jalan yang lebih singkat

Lebih cepat dan lebih banyak dalam memahami sesuatu

Terjalin hubungan batin antara penuntut ilmu dengan ulama. [Diringkas dari Kitaabul ‘ilmi, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah]

Kelima:
Dengan membaca dan mengkaji buku-buku ringkasan sebelum buku-buku tebal dan panjang

Teman-teman sekalian yang sama mengharapkan kebaikan dunia dan akhirat.

Inilah yang bisa kami sampaikan, mudah-mudahan ada manfaatnya

Wallahu a'lam
🖋  Sayyid Syadly Lc

Bagaimana Cara Menentukan Awal Ramadhan?


Bagaimana Cara Menentukan Awal Ramadhan?

Jawaban

Bismillaah
Walhamdulillaah
Washshalaatu wassalaamu 'alaa rosuulillaah, amma ba'du.

Menentukan awal ramadhan dilakukan dengan salah satu dari dua cara berikut:

1. Melihat hilal ramadhan pada tanggal 29 Sya'ban.
2. Jika tidak terlihat maka menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.

Melihat Hilal Ramadhan

Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
”Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut.” 
[QS. Al Baqarah 2: 185]

Jika tidak terlihat maka menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً ، فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِينَ
”Bulan itu dua puluh sembilan malam. Maka janganlah kalian berpuasa hingga melihat hilal. Dan apabila mendung, sempurnakanlah (bulan Sya’ban) bilangan (harinya) menjadi tiga puluh hari.”
[HR. Al Bukhari dan Muslim]

Dan dalam penentuan ini, kita mengikuti penentuan MUI dan pemerintah negeri agar tercipta persatuan ummat dan bangsa tetap terjaga. 

Adapun ketika kita sudah yakin melihat hilal atau yakin dengan hisab, dan pemerintah belum menetapkan, maka silakan puasa secara sembunyi-sembunyi. Dan besoknya barulah berpuasa secara terang-terangan bersama kaum muslimin.

Wallahu a'lam
✒ Sayyid Syadly Lc 

Fatwa Ulama Yang Membolehkan Aksi Damai Yang Bersyarat


Fatwa Ulama Yang Membolehkan Aksi Damai Yang Bersyarat Di Indonesia 

Transkrip Ceramah
Ustadz DR. Muhammad Yusran Anshar, Lc. MA Hafizhahullah

Kita begitu hormat kepada para Ulama kita, kita tahu mereka berijtihad, mereka ketika menyampaikan menginginkan kebaikan untuk ummat, tidak menginginkan kekacauan dan sebagainya.

Tapi sekali lagi, tidak semua persoalan dengan diam dan menghindari, kadang justru dengan keterlibatan, itulah bagian untuk menjauhkan diri kita dan kaum muslimin dari fitnah.

Maka, perlu kita katakan juga, - disamping telah kita sebutkan ulama-ulama yang melarang- ada juga ulama-ulama kibar yang membolehkan diantaranya Syaikh Utsaimin rahimahullah ta'ala, memang ada versi bahwa beliau tidak membolehkan tapi yang beliau maksudkan adalah dalam konteks di Saudi dan Syaikh Abdur Rahman Nashir Al Barrak juga mirip dengan syaikh Ustaimin, tidak membolehkan di saudi, tapi ketika ditanya di negeri Bahrain dan negeri kafir serta negeri luar saudi lainnya yang membolehkan dan mengakomodir demonstrasi, beliau terheran-heran mengapa ada pemerintah yang mau membenarkan seperti itu?! Tapi ketika disampaikan bahwa pemerintah perbolehkan, beliau menjawab "jika memang bisa memberikan mashlahat dan menghentikan kemungkaran maka silahkan", sout (rekaman suara) dan naskahnya ada.

Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Jibrin rahimahullah sangat jelas, dan semua tahu keilmuan dan kewaraan beliau, maka sulit untuk mengatakan ulama kibar tidak membolehkan karena ada juga yang membolehkan.

Dan ini menunjukkan bukan persoalan akidah, dan bukan persoalan manhaj salaf yang tidak boleh berbeda, tapi ini merupakan persoalan furuiyyah dalam melihat mashlahat dan mafsadat, dalam artian tidaklah karena dia berdemo dikatakan salafi dan juga tidaklah karena dia tidak mau berdemo dikatakan salafi, maka ini persoalan ijtihad dan ulama kita telah bebeda dalam masalah ini.

Syaikh Luhaidan juga ada perkataan beliau yang menjelaskan tidak bolehnya, tapi juga ada nash yang beliau membolehkan dalam beberapa keadaan.

Syaikh Zain dudu, syaikh dari moritania jelas membolehkan.

Syaikh Muhammad bin Sulaiman al Asyqar syaikh ushul fiqh dari yordan  membolehkan

Syaikh Aqil Al Maqthari salah seorang ulama dari Yaman

Syaikh Abdul Aziz Al Fauzan di Saudi

Syaikh Abdul Karim bin Yusuf al Khidr salah seorang ustadz musyarik ustadz besar di univ Al Qashim, beliau bahkan punya buku dan tulisan panjang, bahkan hampir 30 dalil bolehnya bahkan disyariatkannya.

Ada buku juga atta'bir 'anirro'yi dhowabithuhu wamajalatuhu fisy syari'ah al islamiyah karya syaikh DR Khalid bin Abdullah assyamrani juga menyinggung beberapa hal tentang masalah ini bahwa ini adalah masalah yang tergantung mashlahat dan mudharatnya.

Jadi tidak dikatakan bahwa tidak boleh secara mutlaq 

Dan ingat ikhwah sekalian, bahwa ulama besar kita, ketika ditanya masalah seperti ini, bagaimana hukum pemilu, dan hukum ini, kebanyakan ketika berfatwa menjawab dengan fatwa umum, tapi ketika datang utusan-utusan dari berbagai negeri, maka mereka mengembalikan mengatakan bagaimana pendapat ulama di negeri kalian, dan itu yang kita dapatkan kebanyakan dari ulama kita, sehingga kadang kita kirim sms menunggu fatwa mereka, mereka katakan "saya tidak bisa memberikan fatwa secara mutlaq, antum lebih tahu keadaan antum, dan tanya ulama antum", maka kita tanya ulama kita, maka sekali lagi bahwa MUI itulah fatwa yang mereka keluarkan.

Maka tidak harus fatwa ulama sebagian di saudi kita terapkan dan kita katakan bahwa inilah kebenaran dan harus diterapkan di Indonesia.

Ikhwah sekalian, jangan antum lupa bahwa berapa banyak fatwa di Saudi tidak tepat di terapkan di Indonesia.

Misal fatwa tidak bolehnya wanita mengendarai mobil apalagi motor, tapi ini sesuai mashlahat di negeri tersebut.

Kalau di negeri kita tidak ada masalah, dan ulama juga membolehkan mobil, bahkan motorpun boleh.

Teringat bahwa seorang ulama besar syaikh Khalid as sabt dulu tidak setuju kalau ada akhwat yang mengendarai motor, tapi setelah beliau tiba di indonesia melihat kendaraan umum begitu ikhtilatnya dan melihat para akhwat naik motor pada waktu itu hijabnya tetap terjaga, beliau katakan "saya ubah fatwa saya bolenya akhwat mengendarai motor" yang penting jangan balap-balap, ini diingatkan para akhwat. Beliau berubah langsung fatwanya

Padahal kalau kita lihat, di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun wanita juga berkendaraan, naik kuda, naik keledai dan sebagainya tapi kenapa ulama larang di negeri mereka, karena adanya pertimbangan khusus dari mereka di negeranya yang tidak cocok di negeri kita.

Maka sekali lagi kita ingatkan perkataan ibnul Qayyim dalam i'lam al muwaqqiin dalam masalah fatwa adalah fahmul waqi' dan ma'rifatul waqi'

Maka Ulama negerilah yang paling tepat dimintai padangannya dengan tetap kita minta arahan-arahan dari Ulama kita di saudi dan lainnya.

Wallahu a'lam
Ditranskrip oleh Sayyid Syadly, Lc

Untuk syarat-syarat aksi damai bisa dilihat di surat keputusan dewan syariah wahdah islamiyah tentang hal ini

https://wahdah.or.id/keputusan-dewan-syariah-wahdah-islamiyah-terkait-demo-dan-aksi-bela-islam/

Penuntut Ilmu Syar i, Keutamaannya Sungguh Menakjubkan


Penuntut Ilmu Syar'i, Keutamaannya Sungguh Menakjubkan.

Bismillah

Segala puji bagi Allah Ta'ala atas segala nikmatNya, Allah 'Azza wa Jalla berfirman dalam surah maryam ayat 63

تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا
"Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang bertakwa" [Qs Maryam 19:63]. 

Nikmat surga yang diperuntukkan hanya untuk hamba-hamba Allah Ta'ala yang bertaqwa, dan ketika seseorang bertaqwa kepada Allah Ta'ala maka dia akan melakukan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, serta dengan bertaqwa Allah Ta'ala akan mengajarinya.

Ketika seseorang ingin diajar oleh Allah Ta'ala maka hendaknya dia bertaqwa, dan salahsatu jalan taqwa adalah dengan menuntut ilmu syar'i, dan dengan sebab menuntut ilmu ini pula seseorang bisa mendapatkan ilmu yang Allah Ta'ala ajarkan kepadanya.

Allah Ta'ala berfirman dalam surah al baqarah ayat yang ke 282

 وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Dan bertakwalah kepada Allah, dan Allah memberikan pengajaran kepada kalian" [Qs Al-Baqarah 2:282].

Shalawat dan salam kita peruntukan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam atas jasa-jasa beliaulah kita bisa mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, dan beliau shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda sebagaimana yang tertulis di dalam shahih muslim rahimahullah:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ 
"Dan barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga" [HR Muslim 2699]

Tentunya hadits ini memberitahukan kepada kita pemahaman bahwa jalan menuju surga itu sulit, dan untuk menjadikannya mudah adalah dengan menuntut ilmu, dan ilmu yang dimaksudkan tentunya ilmu syar'i.

Saudara saudariku seiman...

Keutamaan menuntut ilmu sangatlah banyak, diantaranya telah kita sebutkan di atas, dan diantaranya lagi adalah malaikat menundukkan sayapnya kepada penuntut ilmu karena keridhoan dari apa yang dia lakukan, sebagaimana dalam hadits yang terdapat dalam sunan abu dawud, sunan at tirmidzi dan sunan ibnu majah rahimahumullah:

وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ
"Dan para malaikat akan menundukkan sayap-sayapnya karena senang kepada penuntut ilmu" [HR Abu Dawud 3641, At Tirmidzi 2682, dan Ibnu Majah 223]

Dan lanjutan haditsnya memberitakan kepada kita bahwa penduduk langit dan bumi bahkan ikan beristighfar memohon ampunan kepada Allah Ta'ala bagi penuntut ilmu:

وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ 
"Orang yang berilmu akan dimintakan ampunan oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dalam laut" [HR Abu Dawud 3641, At Tirmidzi 2682, dan Ibnu Majah 223]

Kemudian setelah itu, dilanjutkan dengan keutamaan lain bahwa keutamaan penuntut ilmu dengan yang lainnya seperti keindahan bulan purnama dengan bintang-bintang yang memberikan keindahan hanya sedikit dibandingkan dengan bulan purnama

وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
"Kelebihan serang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang" [HR Abu Dawud 3641, At Tirmidzi 2682, dan Ibnu Majah 223].

Saudara saudariku seiman...

Majlis ilmu atau perkumpulan untuk menuntut ilmu adalah perkumpulan yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sifatkan sebagai taman surga, sebagaimana sabdanya dalam sunan attirmidzi yang dihasankan oleh al albani rahimahumallah:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
"Apabila kalian melewati taman Surga, maka singgalah!" Mereka bertanya "apakah taman Surga itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "halaqah-halaqah dzikir" [HR At Tirmidzi 3510].

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu ketika beliau menyebutkan hadits ini beliau mengatakan:

أما إني لا أعني القُصَّاص ولكن حلق الفقه.
"Ketahuilah bahwa sesungguhnya saya tidak bermaksud mereka adalah para ahlu kisah tapi halaqah fiqh".

Dan berkata 'Atho al Khurosâni:

مجالس الذكر مجالس الحلال والحرام ،كيف تشتري وتبيع وتصلي وتصوم وتنكح وتطلق وأشباه هذا
"Majlis-majlis dzikir adalah majlis-majlis halal dan haram, bagaimana anda membeli, menjual, shalat, berpuasa, haji, menikah, menalak, dan semisalnya".

Coba perhatikan salaf shalih di bawah ini:

وكان أبو السَّوَّار العدوي في حلقة يتذاكرون العلم ومعهم فتى شاب فقال لهم : قولوا سبحان الله والحمد لله ، فغضب أبو السوار ، وقال : ويحك في أي شيء كنا إذاً ؟!
"Dan Abu as Sawwâr Al Adawy suatu ketika di sebuah halaqah saling mengkaji ilmu, bersama mereka seorang pemuda mengatakan kepada orang-orang di halaqah tersebut: "kalian mestinya mengatakan subhanallah wal hamdulillah", maka abu as sawwar marah, dan berkata: "celakalah anda, jadi anda anggap kami sedang apa?!"

Dan dalam kitab Addarimi ada sebuah perkataan ulama yang sanadnya shahih menurut Husain Salim Asad Addaroni:

عَنْ وَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ مَجْلِسٌ يُتَنَازَعُ فِيهِ الْعِلْمُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ قَدْرِهِ صَلَاةً لَعَلَّ أَحَدَهُمْ يَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيَنْتَفِعُ بِهَا سَنَةً أَوْ مَا بَقِيَ مِنْ عُمُرِهِ

Dari Wahab bin Munabbih berkata: " Majelis yang diselenggarakan untuk mendiskusikan ilmu lebih aku sukai daripada digunakan untuk shalat (sunnah), sebab siapa tahu diantara kalian mendengar sepatah kata yang manfaatnya bisa setahun atau sepanjang umur." [Riwayat Addarimi 334]

Saudara saudariku seiman...

Betapa banyak keutamaan ilmu, dan kami tidak sebutkan semua di sini, karena keterbatasan ilmu kami dan penghargaan terhadap waktu, untuk itu pergunakan waktu-waktu kita untuk menuntut ilmu syar'i.

Demikianlah yang kami sampaikan kepada saudara saudariku seiman, semoga bermanfaat bagi diri kami dan bagi semuanya.

WaLlahu Ta'ala A'lam
✒ Sayyid Syadly, Lc.

Tuntutlah Ilmu Syar i, Mengapa Dan Bagaimana?


Tuntutlah Ilmu Syar'i, Mengapa Dan Bagaimana?

Bismillah

Segala puji bagi Allah Ta'ala atas segala nikmatNya, Dialah yang berfirman dalam surah azzumar ayat ke 9:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran" [Qs Az Zumar 39:9].

Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang telah membawa ummatnya dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya ilmu, beliaulah yang bersabda sebagaimana tercantum dalam kitab shahih al bukhari dan shahih muslim rahimahumallah:

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
"Siapa yang Allah kehendaki baik pada dirinya maka Allah akan pahamkan padanya dalam urusan agama" [HR Al Bukhari 3116 dan Muslim 1037].

Saudara saudariku seiman...

Bertaqwalah kepada Allah Ta'ala dan menuntut ilmulah ilmu syar'i yaitu ilmu tentang syari'at islam kita karena sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya dan petunjuk, adapun kebodohan adalah kegelapan dan kesesetan, Allah Ta'ala berfirman dalam surah al an-'am ayat 122:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا 
Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? [Qs Al An-'am 6:122].

Tuntutlah ilmu yang Allah Ta'ala turunkan kepada RasulNya shallallahu 'alaihi wasallam berupa wahyu, sebab para ahlu ilmu adalah pewaris para Nabi, sedangkan mereka tidak mewariskan dinar dan dirham, tapi hanya ilmu, barangsiapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak dari warisan mereka, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam sunan abu dawud, sunan at tirmidzi, dan sunan ibnu majah  rahimahumullah dengan derajat hadits shahih:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
"Para ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka telah mengambil bagian yang banyak" [HR Abu Dawud 3641, At Tirmidzi 2682, dan Ibnu Majah 223].

Tuntutlah ilmu syar'i karena dengannya diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah Ta'ala, sebagaimana firmanNya dalam surah al mujadilah ayat ke 11:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kalian kerjakan" [Qs Al Mujadilah 58:11].

Tuntutlah ilmu syar'i lagi bermanfaat dan ajarkanlah sebab pahalanya akan mengalir meskipun pemiliknya telah meninggal dunia, Nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wasallam bersabda sebagaimana termaktub dalam shahih al bukhari dan shahih muslim rahimahumallah:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa'at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya." [HR Al Bukhari 1337 dan Muslim 1631]

Perhatikanlah apa yang telah ditinggalkan oleh ahlu ilmu -yang telah meninggal dunia- dari ilmu mereka, mereka mengajarkan kepada murid-muridnya dan menuliskan ilmu sehingga sampai saat ini kita masih merasakan ilmu mereka, seakan-akan mereka masih hidup, manusiapun mendoakan mereka dengan doa kebaikan ketika disebut nama mereka.

Saudara saudariku seiman...

Tuntutlah ilmu sedikit demi sedikit dan setahap demi setahap agar ilmu yang kita perolah dapat tertanam dengan baik di hati kita, itulah sebab mengapa al quran tidak turun sekaligus kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tapi sedikit demi sedikit dan setahap demi setahap, sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam surah al furqan ayat ke 32:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا
Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar)" [Qs Al-Furqan 25:32].

Tuntutlah ilmu itu terus menerus, dan jangan lupa mengamalkannya semampunya, karena sungguh buruk perumpamaan yang berilmu tanpa beramal, firman Allah Ta'ala dalam surah al jumuah ayat 5:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

"Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." [Qs Al-Jumu'ah 62:5]

Orang-orang yang berilmu tapi tidak beramal, mereka seperti yahudi yang Allah Ta'ala murkai, dan beramal tanpa berilmu seperti nasrani yang sesat, sebagaimana dalam surah al fatihah ayat terakhir:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (yahudi berilmu tanpa beramal), dan bukan mereka yang sesat (nasrani beramal tanpa ilmu).
[Qs Al-Fatihah 1:7]

Demikianlah yang kami sampaikan kepada saudara saudariku seiman, semoga bermanfaat bagi diri kami dan bagi semuanya.

WaLlahu Ta'ala A'lam
✒ Sayyid Syadly, Lc

Belajar Kepada Siapa?


Belajar Kepada Siapa?

Transkripsi Penjelasan 
Ustadz DR. Muhammad Yusran Anshar, Lc. MA Hafizhahullah

Pada dasarnya, ilmu ini sangat luas, sehingga tidak akan berada pada satu atau dua orang saja. Oleh karena itu, ulama kita mencontohkan antusias mereka dan semangat untuk belajar dari banyak guru, karena ilmu ini tersebar ke mana-mana.

Namun di sisi lain juga, perlu bagi yang mau belajar berhati-hati jangan sampai belajar kepada orang yang sudah jelas kesesatannya, seperti orang syiah.

Di zaman ini, sekte yang paling berbahaya banyak tersebar di kalangan kaum muslimin adalah sekte syiah, ahmadiyah, liberal, sekuler, ataupun pemahaman-pemahaman yang sudah jelas kesesatannya. 

Dan inilah yang dimaksudkan oleh para ulama ketika mereka mengatakan

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم 
"Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka perhatikanlah darimana kalian mengambil agama kalian"

فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فلا يؤخذ حديثهم  
Mereka dulu begitu selektif ketika datang hadits-hadits, tidak langsung mengambilnya, dilihat dulu apakah sanadnya datang dari ahlussunnah atau justru dari ahli bid'ah, jangan-jangan mereka memanipulasi data-data yang ada, bukan hadits dikatakan sebagai hadits, atau merubah teksnya, dan seterusnya.

Dan kalau dari ahlussunnah maka merekapun bermacam-macam, dan tentunya tidak ada yang ma'shum, tapi selama dia ahlussunnah secara umum maka silakan mencari dan mengambil ilmu darinya.

Dan perlu juga untuk kita memperhatikan persoalan akhlaq dan adab, karena ulama salaf kita selalu mendahulukan persoalan adab sebelum persoalan ilmu, karena adab adalah perhiasan dari ilmu itu.

Apa gunanya ilmu kalau tidak melahirkan perasaan tawadhu, tidak melahirkan perasaan takut kepada Allah, dan lisan kita tidak bisa kita jaga dari menggibah atau menyakiti hati orang lain, dan seterusnya.

Maka di antara ulama salaf mereka belajar 30 tahun adab, lalu barulah belajar ilmu secara detail dan mendalam.

Dalam perjalanan menuntut ilmu yang sifatnya ilmiah, bagi penuntut ilmu yang ingin menjadi spesialis dalam ilmu tertentu, mereka menasihatkan untuk fokus menyelesaikan ilmu tertentu lalu pindah ke yang lainnya.

Atau dalam fiqh misalnya, biasanya fokus dalam madzhab fiqh tertentu, lalu pindah mempelajari madzhab berikutnya untuk sebagai perbandingan.

Ini kadang yang dinasihatkan agar pikiran tidak bercabang dan tidak bingung.

Tapi secara umum, kalau ilmu berupa nasihat atau wejangan atau arahan-arahan maka kepada siapa saja yang bisa melembutkan hati kita, yang membuat kita lebih cinta kepada Allah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selama aqidahnya tidak menyimpang.

Maka seperti orang syiah dan lainnya yang telah difatwakan ulama kesesatannya maka tidak ada kebaikan yang bisa diambil dari mereka.

Adapun ahlussunnah meskipun kadang terjatuh pada suatu kesalahan, kita tetap mengambil kebaikan-kebaikan darinya dan tidak mengambil kesalahannya.

Sampai-sampai ada atsar yang menyebutkan yang dikatakan sebagai hadits walaupun lemah secara sanad tapi maknanya benar 

الحكمة ضالة المؤمن حيثما وجدها فهو أحق بها
"Hikmah itu barang orang mukmin yang hilang, maka kapan dia mendapatkannya maka dia lebih berhak untuk mengambilnya".

Maka nasihat, wejangan, penambah keimanan, dimana saja dan siapa saja dari ahlussunnah silakan mengambilnya, adapun pada ilmu-ilmu tertentu yang mendalam maka silakan kepada ahlinya.

Dari sini juga, kita tidak setuju dengan sebagian orang yang mudah mentahdzir, kecuali memang ada sesuatu yang dianggap bertentangan, maka perlu untuk dibahas secara ilmiah, dan selama seseorang ahlussunnah maka kita ambil manfaat kebaikan dari mereka.

(Dalam majlis lain beliau memberikan faidah) "Hukum asal aqidah yang fitrah adalah aqidah ahlussunnah wal jama'ah, maka hukum asal setiap muslim adalah ahlussunnah waljama'ah sampai kita punya alasan untuk mengatakan dia bukan ahlussunnah wal jamaah, tapi sebagian orang seakan-akan mengatakan hukum asal seorang muslim bukan ahlussunnah wal jamaah sampai dia mendapatkan label dari orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu wallahul musta'an"
 
Wallahu a'lam
Ditranskripsi oleh Sayyid Syadly, Lc.

Ilmu, Antara Ulama Dan Awam



Bismillah

Muqaddimah

Segala puji bagi Allah Ta'ala atas segala nikmatNya, Allah 'Azza wa Jalla berfirman dalam surah al an'am ayat 124:

اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ
"Allah Lebih Tahu Kepada Siapa Dia Menempatkan Risalahnya" [Qs Al-An'am 6:124]. 

Shalawat dan salam kita peruntukan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam salahsatu dari hamba Allah Ta'ala yang terpilih sebagai rasul utusanNya. Bahkan beliaulah shallallahu 'alaihi wasallam rasul terbaik yang Allah Ta'ala utus dan pemimpin manusia di hari kiamat sebagaimana sabdanya dalam shahih muslim rahimahullah:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ

"Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat kelak, aku adalah orang yang muncul lebih dahulu dari kuburan, aku adalah orang yang paling dahulu memberi syafa'at, dan aku adalah orang yang paling dahulu dibenarkan memberi syafa'at." [HR Muslim 2278 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu].

Rasul Pilihan Allah

Saudaraku dan saudariku seiman hafidzhakumullah...

Tugas kerasulan adalah menyampaikan risalah Allah Ta'ala yang Allah Ta'ala pilih diantara hamba-hambaNya siapa yang paling berhak mengembang amanah tersebut.

Menjadi seorang rasul adalah suatu pilihan Allah Ta'ala yang kita tidak bisa berusaha untuk mendapatkan gelar tersebut tapi Allah Ta'alalah yang menentukan.

Allah subhanallah wa ta'ala berfirman dalam surah al hajj ayat 75:

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
Allah memilih para utusan(-Nya) dari malaikat dan dari manusia. Sesung-guhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.
[Qs Al-Hajj 22:75].

Tingkatan Kenikmatan

Diantara sekian banyak nikmat yang Allah Ta'ala berikan adalah menciptakan kita dalam bentuk manusia bukan iblis maupun binatang, tidak sampai di situ, nikmat Allah Ta'ala selanjutnya adalah memberikan kita hidayah islam sehingga beda antara kita dengan kaum kafir.

Nikmat islam inilah nikmat terbesar yang Allah Ta'ala berikan kepada kita, jangan kita sia-siakan, dan tetap istiqamahlah dengan nikmat ini, jangan sampai meninggal dunia kecuali dalam keadaan muslim.

Dan kenikmatan selanjutnya adalah ketika seseorang diberikan nikmat untuk bisa fokus menuntut ilmu, bisa menjadi ulama yang takut kepada Allah subhanallah wa ta'ala:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
"Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun" [Qs Fathir 35:28].

Pewaris Nabi

Sebagaimana kita ketahui bahwa para ulama adalah pewaris para Nabi, dan yang mereka wariskan adalah ilmu, sehingga warisan terbaik yang perlu untuk kita ambil adalah warisan ilmu ini.

Dan kita tahu bahwa tugas utama nabi dan rasul Allah Ta'ala adalah dakwah menyampaikan risalah Allah Ta'ala, maka ulama yang merupakan pewaris mereka juga bertugas untuk mendakwahkan ilmunya.

Dan kita tahu bahwa setelah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, tidak ada lagi Nabi dan Rasul melainkan hanya ulama yang mewarisi mereka, Beliau bersabda dalam shahih al bukhari dan muslim rahimahumallah:

وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ
"Aku adalah penutup para nabi". [HR Al Bukhari 3535 dan Muslim 2286]

Bertanya Kepada Ulama

Untuk melengkapi satu sama lain, sementara ulama menyampaikan ilmu yang mereka miliki, maka sepantasnya yang bukan ulama (baca: awam) untuk bertanya dan bertanya kepada mereka, karena kadang ulama menyampaikan ilmunya di suatu tempat tapi kadang kita yang bukan ulama tidak mendapatkan ilmu tersebut, Allah Ta'ala berfirman dalam surah an nahl dan al anbiya:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui" [QS Al-Anbiya' 21:7 dan An Nahl 16:43].

Pembagian Ilmu

Sebagaimana juga kita ketahui bahwa ada ilmu yang wajib diketahui setiap orang -seperti tata cara shalat dan sebagainya- dan ada yang wajib kifayah yaitu jika sudah ada sebagian yang menuntutnya -seperti para penuntut ilmu yang fokus menuntut ilmu lalu mengajarkannya- maka sudah gugur kewajiban bagi yang lainnya.

Akhirat Dikedepankan

Saudara saudariku seiman rahimakumullah...

Sesibuk apapun diri kita dengan dunia, kita mesti lebih mengedepankan akhirat kita daripada dunia, mesti kita tuntut ilmu agama kita, sehingga bisa menjadi bekal untuk hari setelah kita meninggal dunia, Allah Ta'ala berfirman dalam surah al qasash:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ  وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا 
"Dan carilah perbekalan negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia" [Qs Al-Qashash 27:77]

Dalam ayat ini menyebutkan bahwa kita disuruh berbekal akhirat, adapun dunia jatah kita sudah ada yang tidak boleh juga kita tinggalkan, bukan terbalik cari dunia jangan lupa akhirat, tapi cari akhirat jangan lupa dunia. 

Bertaqwa Dengan Ilmu

Dan sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan seseorang tidaklah bertaqwa mengerjakan apa yang Allah Ta'ala perintahkan dan menjauhi apa yang dilarang tanpa mengilmuinya terlebih dahulu mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang.

Demikianlah yang kami sampaikan kepada saudara saudariku seiman, semoga bermanfaat bagi diri kami dan bagi semuanya.

WaLlahu Ta'ala A'lam
✒ Sayyid Syadly, Lc.